Lentera Takjub — Nama Demon Hunter kembali menjadi perhatian setelah band metal kristen asal Seattle, Amerika Serikat, menggugat Netflix terkait penggunaan nama KPop Demon Hunters.
Gugatan tersebut diajukan perusahaan yang menaungi Demon Hunter, Hyde Lane, terhadap Netflix Studios dan promotor konser AEG Presents.
Mereka menilai penggunaan nama tersebut dalam film, musik, merchandise, hingga rencana tur dunia berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan publik.
Dilansir dari BBC, gugatan tersebut didaftarkan pada Selasa (18/8/2026). Pihak Demon Hunter menyebut terdapat “hampir seluruh kesamaan” antara berbagai produk yang kini dikembangkan Netflix dengan aktivitas yang selama ini mereka jalankan sebagai band.
Salah satu bukti yang dicantumkan dalam gugatan adalah komunikasi dari seseorang yang disebut telah menghabiskan sekitar USD 500 untuk membeli tiket konser Demon Hunter di New York karena mengira konser tersebut merupakan pertunjukan K-pop yang ramah untuk anak-anaknya.
Ada pula seorang produser televisi yang disebut menghubungi manajemen Demon Hunter karena mengira band tersebut memiliki hubungan dengan KPop Demon Hunters.
Di media sosial, nama Demon Hunter juga beberapa kali disebut atau ditandai ketika pengguna membicarakan film Netflix tersebut.
Sudah 25 Tahun Menggunakan Nama Demon Hunter
Demon Hunter sendiri merupakan band metal yang telah bermusik dan melakukan tur selama sekitar 25 tahun.
Band beranggotakan lima orang tersebut telah merilis album ke-12 pada September 2025. Menurut data yang dikutip BBC dari Spotify, Demon Hunter memiliki sekitar 350 ribu pendengar bulanan.
Sementara itu, popularitas KPop Demon Hunters berkembang jauh lebih besar sejak film animasi tersebut dirilis pada 2025. Para pengisi suara sekaligus pemeran musik grup HUNTR/X tercatat memiliki sekitar 27 juta pendengar bulanan di Spotify.
Perusahaan milik Demon Hunter mendaftarkan merek dagang “Demon Hunter” untuk musik rekaman dan merchandise pada 2022. Mereka juga telah mengajukan pendaftaran merek untuk kategori pertunjukan musik secara langsung.
Netflix sendiri juga telah mendaftarkan merek “Kpop Demon Hunters” untuk sejumlah kategori merchandise dan masih memiliki beberapa permohonan merek dagang lainnya.
Minta Penggunaan Nama Dihentikan
Dalam gugatan tersebut, pihak Demon Hunter meminta pengadilan menghentikan penggunaan nama KPop Demon Hunters oleh Netflix untuk musik rekaman, pertunjukan langsung, dan merchandise.
Mereka juga meminta ganti rugi dengan jumlah yang belum ditentukan.
Seperti diketahui, gugatan ini muncul ketika KPop Demon Hunters tengah berkembang menjadi sebuah waralaba besar berkat kesuksesan film animasi tersebut.
KPop Demon Hunters saat ini merupakan salah satu film orisinal Netflix yang paling banyak ditonton. Kepopuleran itu juga turut mendongkrak musik yang ada di dalam film, serta penjualan merchandise-nya.
Dalam waktu dekat, Netflix akan segera mengelar sekuel. Tur konser global KPop Demon Hunters juga kabarnya akan dibuat dan diperkirakan mulai digelar pada 2027.