Mengapa Kau Masih Takut, Padahal Tuhan Sudah Berkali-kali Menolongmu? (Markus 8 Bagian 1)

Lentera Takjub Ada kalanya hidup terasa begitu berat. Kita mungkin pernah melihat Tuhan membuka jalan. Pernah merasakan doa dijawab, dan mungkin bahkan pernah mengalami pertolongan-Nya yang ajaib.

Namun, saat datang masalah baru, rasa takut itu muncul lagi, seolah apa yang pernah terjadi tak ada artinya. Kamu lebih memilih fokus pada keresahan, “Bagaimana kalau kali ini Tuhan tidak menolongku?”

Nah, kalau pertanyaan itu pernah muncul di hatimu, Markus 8 mungkin sedang berbicara kepadamu.

Ya! Pasal ini bukan hanya tentang mukjizat. Ini adalah kisah tentang Yesus yang dengan sabar mengajar orang-orang yang masih belajar percaya.

Dan mungkin… kita adalah salah satunya. Ayo kita simak bersama-sama.

Tuhan Selalu Lebih Dulu Melihat Air Matamu

Sudah tiga hari orang banyak mengikuti Yesus. Mereka datang dari berbagai tempat.

Ada yang berjalan berkilo-kilometer. Ada yang membawa anak-anak. Ada pula orang tua yang tetap bertahan meski tubuhnya mulai lelah.

Di lokasi tersebut, tidak ada panggung, dan tidak ada pengeras suara. Hanya Yesus, beserta ribuan orang yang haus akan setiap perkataan-Nya.

Gawatnya, bekal yang mereka bawa mulai habis. Perut mereka kosong, dan kaki mereka mulai lemah.

Yang menarik, meski Alkitab tidak mencatat ada seorang pun yang mengeluh. Yesus nampaknya sudah lebih dulu mengetahui apa yang mereka rasakan.

Ia kemudian memanggil murid-murid-Nya, lalu berkata,

“Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan pingsan di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” (Markus 8:2-3)

Kalimat itu begitu indah. Sebelum mereka meminta, Yesus rupanya sudah peduli. Sebelum mereka mengangkat tangan, Yesus sudah melihat kebutuhan mereka.

Begitulah hati Tuhan. Kadang kita berpikir Tuhan baru bekerja setelah kita menangis dalam doa.
Padahal sering kali, bahkan sebelum air mata pertama jatuh, hati-Nya sudah lebih dulu tergerak oleh belas kasihan.

Mendengar pernyataan Yesus, murid-murid saling memandang.

Mereka melihat ribuan orang, lalu melihat bekal yang hampir tidak ada. Hingga salah satu dari mereka berkata,

“Di manakah di tempat sunyi seperti ini kita akan dapat memberi mereka makan sampai kenyang?” (Markus 8:4)

Sekilas, pertanyaan itu terdengar sangat manusiawi. Namun, mereka nampaknya lupa, jika pernah mengalami bagaimana lima roti memberi makan lima ribu orang, dan itupun masih sisa dua belas bakul.

Tetapi hari ini, mereka kembali takut.

Sebelum lanjut, mari pahami dulu jika kita sering melakukan itu.

Padahal, kemarin Tuhan menolong biaya sekolah anak. Bulan lalu, Tuhan mencukupkan kebutuhan keluarga. Dan tahun lalu, mungkin Tuhan pernah menyembuhkan penyakit.

Tetapi, hari ini… dia (dan mungkin juga kita), kembali gelisah. Beberapa dari kita akhirnya bahkan punya tuduhan terhadap Tuhan, bahwa Ia berubah.

Padahal, lagi-lagi, yang berubah sering kali adalah ingatan kita.

Yesus bertanya, “Berapa roti yang ada padamu?” (Markus 8:5).

“Hanya tujuh roti,” jawab salah satu jemaat yang hadir.

Ia kemudian mengambil tujuh roti itu, seperti apa yang dikatakan Markus di (8:5).

“Sesudah itu Ia mengucap syukur atas roti itu, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikan kepada orang banyak, dan mereka pun membagikannya kepada orang banyak.” (Markus 8:6).

Mereka juga memiliki beberapa ikan kecil. Yesus memberkatinya. Murid-murid kembali membagikannya.

Lalu, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.

“Mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Yang ikut makan ada kira-kira empat ribu orang.” (Markus 8:8-9)

Mukjizat selalu mengajarkan satu hal. Apa yang ada di tangan kita mungkin sedikit. Tetapi apa yang ada di tangan Yesus tidak pernah kekurangan.

Ketika Hati Sudah Menolak Percaya

Tidak lama kemudian datanglah orang-orang Farisi.

Mereka bukan datang untuk belajar. Bukan pula untuk mencari kebenaran. Mereka datang membawa satu tujuan… menguji Yesus.

“Orang-orang Farisi datang dan mulai bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta suatu tanda dari surga.” (Markus 8:11)

Aneh, bukan? Begitu banyak mukjizat sudah terjadi. Orang sakit sembuh. Orang lapar dikenyangkan. Orang kerasukan dibebaskan.

Tetapi mereka masih berkata, “Berikan kami tanda.”

“Maka, mengeluhlah Yesus dalam hati-Nya dan berkata, ‘Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.'” (Markus 8:12)

Yesus tidak marah. Tetapi hati-Nya berduka.

Karena masalah mereka bukan kurangnya bukti, melainkan hati yang sudah memutuskan untuk tidak percaya.

Kadang kita pun bisa seperti itu. Terlalu sibuk meminta mukjizat berikutnya… hingga lupa bersyukur atas mukjizat yang sudah Tuhan kerjakan.

Jangan Sampai Hatimu Ikut Mengembang

Selepas kejadian itu, perahu kembali berlayar. Murid-murid baru sadar mereka lupa membawa bekal. Hanya ada satu roti yang tersisa.

“Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: ‘Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.'” (Markus 8:15)

Mereka salah mengerti.
Mereka mengira Yesus sedang membahas roti.
Padahal bukan itu maksud-Nya.

Ragi memang kecil. Hampir tidak terlihat. Tetapi sedikit ragi mampu mengembangkan seluruh adonan.

Begitu juga dengan kemunafikan, kesombongan, ketidakpercayaan. Semuanya sering dimulai dari sesuatu yang kecil, lalu perlahan memenuhi hati.

Karena itu, Yesus mengingatkan mereka. Jangan sampai hati yang tadinya lembut… perlahan menjadi keras.

Melihat murid-murid belum mengerti, Yesus berkata,

“Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu mengerti dan belum faham? Masihkah hatimu degil? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidak ingatkah kamu?” (Markus 8:17-18)

Lalu Yesus mengajak mereka mengingat kembali.
Lima roti.
Dua belas bakul.
Tujuh roti.
Tujuh bakul.
Murid-murid mampu menjawab semuanya.
Mereka hafal angkanya.
Tetapi mereka belum memahami hati Tuhan.

Bukankah kita juga begitu?
Kita hafal banyak ayat.
Masih ingat kapan Tuhan menolong kita.
Tetapi hati tetap mudah takut.

Markus 8 mengajarkan sesuatu yang sederhana. Iman bukan sekadar mengingat mukjizat. Iman adalah percaya bahwa Tuhan yang sama… masih berjalan bersama kita hari ini.

Saat Tuhan Membuka Mata Sedikit Demi Sedikit

Sesampainya mereka di Betsaida, orang-orang membawa seorang buta kepada Yesus. Mereka memohon supaya Yesus menyentuhnya.

Yesus menggandeng tangan orang itu. Membawanya keluar dari kampung. Jauh dari keramaian. Jauh dari sorotan banyak orang.

Seolah Yesus ingin berkata, “Mari… Aku akan menolongmu. Tidak perlu takut.”

Lalu Yesus menyentuhnya. Dan bertanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?” (Markus 8:23)

Orang itu menjawab,

“Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” (Markus 8:24)

Mukjizatnya belum selesai. Penglihatannya mulai pulih. Tetapi belum sempurna.

“Lalu Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.” (Markus 8:25)

Serupa dengan kisah ini, kadang Tuhan tidak mengubah hidup kita dalam satu malam, melainkan memulihkan hati kita sedikit demi sedikit, mnguatkan kita sedikit demi sedikit, dan mengajar kita percaya sedikit demi sedikit.

Yakinlah, semua itu bukan berarti Dia terlambat, tapi sedang membentuk iman yang kokoh.

Refleksi

Mungkin hari ini engkau sedang merasa seperti murid-murid. Sudah sering melihat pertolongan Tuhan… tetapi masih mudah khawatir.

Atau mungkin engkau seperti orang buta di Betsaida. Sudah mulai melihat harapan… tetapi semuanya masih terasa samar.

Kalau iya? Jangan menyerah. Markus 8 mengingatkan kita bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan orang yang sedang bertumbuh.

Dia tidak memarahi murid-murid yang masih takut. Dia tidak meninggalkan orang buta ketika matanya belum pulih sepenuhnya.

Sebaliknya, Dia tetap tinggal. Tetap menggenggam. Tetap menyentuh.

Dan selama Yesus masih memegang tanganmu, selalu ada harapan bahwa esok akan lebih terang daripada hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!