Lentera Takjub – Saya termasuk orang yang akan langsung berkata ‘ya’ ketika ditawarkan sebuah film yang menonjolkan anjing di posternya.
Dan ketika melakukannya lagi untuk film ‘Good Boy,’ saya enggak menyangka kalau film ini benar-benar mengambil sudut pandang anjing.
Sinopis Good Boy
Good Boy mengisahkan seekor anjing bernama Indy yang menghabiskan waktu bersama pemiliknya, Todd yang sakit keras, di sebuah rumah terpencil di ujung kota.
Sayangnya, di film ini kita tidak sedang menunggu keajaiban, melainkan diajak menyaksikan kedatangan makhluk gaib yang akan datang mengganggu masa-masa akhir Todd.
Todd, yang jadi target utama, sama sekali tidak menyadari gangguan tersebut. Yang merasakan ancaman itu justru si Indy. Keunikan inilah yang kemudian menjadi fokus ceritanya. Tentang bagaimana jagoan kita, si golden retriever Indy, mencoba menyelamatkan Todd dari makhluk yang entah apa namanya itu.
Sebentar Namun Membekas
Secara durasi, Good Boy sangat singkat. Ini bisa dimengerti karena ceritanya yang simple, serta tingkat kesulitan yang harus dilalui sang sutradara, Ben Leonberg untuk mengarahkan Indy berakting.
Sedikit informasi, film ini sama sekali tak menggunakan CGI di bagian anjingnya.
Saya sangat kagum melihat akting Indy yang natural dan bagus. Terutama setelah sutradaranya memastikan bahwa anjing tersebut sama sekali tidak stress atau terbebani saat syuting, dan bahkan tidak menyadari kalau ia sedang berakting.
Seberapa menakutkan film ini?
Kalau dilihat dari sisi horor, Good Boy sama sekali tidak menakutkan. Namun di luar hal itu, ada sesuatu yang spesial perihal film ini.
Salah satunya tentang bagaimana depresi dan keputusasaan bisa membuat seseorang menarik diri dari lingkungannya, bahkan dari keluarganya sendiri.
Mungkin, Todd menyadari bahwa pada dasarnya orang-orang di sekitarnya memiliki hidup yang harus dijalani. Dan ia tak ingin mengganggu siklus tersebut, dengan rasa iba atau khawatir yang meracuni pikiran mereka.
Itu mengapa, setelah dinyatakan terlalu parah untuk sembuh, Todd lantas menghilang dan hanya memilih Indy untuk menjadi teman terakhirnya. Ia merasa nyaman di dekat Indy karena tahu bahwa bagi Indy, Todd adalah seluruh hidupnya.
Ya! sudah bukan rahasia umum bahwa selain benda-benda bergerak dan biskuit kering, yang ada di pikiran anjing hanyalah kita selaku pemiliknya. Seolah-olah ia hanya hidup untuk kita.
Peringatan Spoiler….
Jadi, jika kamu tanya di mana bagian seramnya? Jawabannya justru adalah di bagian perpisahannya.
Its heartbreaking ketika Todd berkata kepada anjingnya,
“kamu adalah anjing yang baik, tapi kamu tak bisa menyelamatkanku.” Tidak ada yang siap mendengarnya. Termasuk saya.
Pada akhirnya, lupakan bagian horornya, dan kamu akan mendapati Good Boy sebagai salah satu surat cinta untuk para pecinta anjing di seluruh dunia. 6.5/10, sempatkan menonton kalau masih tayang di bioskop.