Vokalis Papa Roach: Saya Mengikuti Yesus, dan DIA Luar Biasa!

Lentera Takjub – Jacoby Shaddix, vokalis sekaligus jiwa dari band legendaris Papa Roach, bukan hanya menyanyikan lagu tentang sakit hati dan pemberontakan. Ia rupanya hidup di dalam liriknya sendiri.

Lahir di Mariposa, California, pada 28 Juli 1976, Jacoby tumbuh di tengah keluarga yang bernapas dalam pusaran konflik. Semua itu membuat masa kecilnya tidak berjalan mudah, dan menyisakan luka-luka yang terus membekas di masa dewasanya.

Tahun 1993, Jacoby mendirikan Papa Roach. Band itu ia jadikan tempat menyalurkan amarah, kesedihan, dan keraguan diri. Kejujuran yang ia lantunkan pada akhirnya meraih atensi luas, dan mengangkat salah satu album mereka, Infest (2000) menjadi anthem para pemikul luka seperti dirinya.

Jika dihitung secara matematika, ketenaran dan kekayaan yang Jacoby raih dari situ, seharusnya membuatnya bahagia. Namun, siapa sangka jika posisi puncak tersebut justru mendekatkannya dengan iblis-iblis di dalam pribadinya.

Tak terhitung berapa tahun ia harus berperang melawan kecanduannya terhadap alkohol, obat-obatan, dan depresi yang menyiksa. Hingga akhirnya, di tahun 2013, Jacoby menemukan iman yang mengubah hidupnya.

“Ini sangat penting bagi saya. Saya mengikuti seorang pria bernama Yesus, dan saya pikir Dia luar biasa. Ada banyak orang Kristen yang mengecewakan, tapi ketika saya menjalin hubungan dengan kekuatan yang lebih tinggi, saya merasa tersambung dengan kekuatan tertinggi di alam semesta,” ucapnya dalam sebuah wawancara dengan majalah Kerrang.

Jacoby mengakui, perjalanan menuju kesembuhan tidaklah mudah. Namun, perlahan kebangkitan iman yang ia rasakan sukses membuatnya kian tegar. Hal itu terbukti dari komitmennya selama tujuh tahun terakhir untuk terus menolak botol minuman dan obat-obatan terlarang, dan fokus pada keluarganya, musiknya, serta dirinya sendiri.

“Sekarang saya bisa menjadi suami dan ayah yang baik, serta frontman yang tangguh. Melihat teman-teman saya yang jatuh ke jurang kecanduan dan meninggal terlalu dini, saya merasa beruntung bisa bertahan hidup,” ujarnya.

Berbicara soal kehilangan, Jacoby kemudian mengingat kematian Keith Flint dari The Prodigy yang sempat menghantamnya dengan keras.

Ia menyadari betapa sulitnya perjuangan melawan iblis dalam diri ketika dijalani sendirian. “Kita sering melihat orang sukses dan berpikir hidup mereka sempurna, tapi di balik tawa mereka, ada pertempuran yang tak terlihat,” katanya.

Kini, Jacoby Shadix telah menjadi seorang Kristen yang taat. Ia bahkan kerap menyanyikan lagu-lagu rohani serta kidung pujian di berbagai acara publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!