Lentera Takjub, Washington DC – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengubah daftar kategori agama bagi anggota militernya setelah muncul protes dari Gereja Mormon. Persoalan ini bermula ketika Pentagon menerbitkan daftar baru yang memberi label “Kristen” pada beberapa kelompok gereja, tetapi tidak memberikan label yang sama kepada Gereja Mormon.
Gereja Mormon adalah sebutan yang umum digunakan untuk The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints. Gereja ini menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah pusat iman mereka.
Namun, dalam sejarahnya, posisi Gereja Mormon dalam Kekristenan memang sering menjadi perdebatan karena adanya perbedaan ajaran dengan banyak gereja Kristen arus utama.
Sebelum gelombang protes datang dari Gereja Mormon, Pentagon diketahui memperbarui daftar kode agama yang digunakan untuk membantu pelayanan rohani bagi anggota militer Amerika Serikat. Daftar tersebut dipangkas dari lebih dari 200 kategori menjadi sekitar 31 kategori dengan tujuan agar para kapelan militer lebih mudah memahami kebutuhan rohani para prajurit.
Dalam daftar awal, beberapa kelompok seperti Katolik, Evangelikal, dan Metodis diberi keterangan sebagai bagian dari kategori “Kristen.” Sementara itu, Gereja Mormon tercantum sebagai kelompok tersendiri tanpa label tersebut. Hal inilah yang memicu keberatan dari sejumlah anggota parlemen Amerika yang merupakan anggota Gereja Mormon.
Mengutip dari The Washington Post, Senator Mike Lee dan Senator John Curtis dari Utah menyampaikan keberatan tersebut. Mereka menilai pemerintah tidak seharusnya menentukan atau memberi penilaian terhadap identitas iman suatu kelompok agama.
Setelah mendapat kritik, Pentagon akhirnya mengubah daftar tersebut. Namun, perubahan yang dilakukan bukan dengan menambahkan label “Kristen” pada Gereja Mormon, melainkan menghapus label “Kristen” dari seluruh kelompok yang sebelumnya diberi keterangan tersebut.
Kini, daftar tersebut hanya mencantumkan nama masing-masing kelompok agama tanpa memberikan penilaian apakah kelompok itu termasuk Kristen atau tidak.
Pentagon menjelaskan bahwa daftar tersebut bukan dibuat untuk menentukan agama mana yang benar atau salah. Tujuannya adalah membantu pelayanan rohani di lingkungan militer agar anggota pasukan dapat memperoleh dukungan sesuai kebutuhan iman mereka. Pentagon juga menegaskan bahwa pemerintah tidak bertugas memutuskan perdebatan teologi antaragama.
Namun, perubahan ini tetap menimbulkan perhatian dari berbagai kelompok. Selain persoalan terkait Gereja Mormon, penyederhanaan daftar tersebut juga membuat sejumlah kelompok agama yang sebelumnya tercantum tidak lagi muncul dalam daftar baru, termasuk beberapa kelompok minoritas keagamaan.