Bekas Gedung Gereja di Sydney Diubah Jadi Klub LGBTQ, Tuai Protes dari Umat Kristen

Lentera Takjub, Sydney — Sebuah bangunan bekas gereja berusia sekitar 150 tahun di pusat kota Sydney, Australia menjadi sorotan setelah digunakan sebagai ruang seni dan hiburan bagi komunitas LGBTQ. Perubahan fungsi bangunan tersebut memicu protes dari sejumlah kelompok Kristen yang menilai penggunaan simbol-simbol iman dalam acara yang digelar di tempat itu telah melewati batas.

Mengutip dari Nine.com, tempat tersebut bernama Divine Playhouse, sebuah ruang seni dan hiburan malam yang dikelola oleh Heaps Gay Events. Sebelumnya, tempat ini sempat menggunakan nama Unholy Playhouse sebelum akhirnya berganti nama. Pengelola menyebut tempat tersebut sebagai ruang yang aman dan inklusif bagi seniman, pertunjukan budaya, serta komunitas LGBTQ.

Bangunan yang digunakan bukan lagi gereja aktif. Gedung tersebut telah kehilangan fungsi keagamaannya sejak tahun 1930-an dan selama puluhan tahun digunakan untuk berbagai kegiatan budaya, termasuk sebagai ruang pertunjukan.

Namun, pembukaan Divine Playhouse menimbulkan kontroversi karena beberapa materi promosi dan pertunjukan dianggap oleh sebagian umat Kristen menggunakan simbol-simbol yang dianggap suci secara tidak pantas.

Sejumlah kelompok Kristen, termasuk The Prodigal Sons dan kelompok lainnya, mengadakan aksi protes di depan lokasi tersebut. Mereka menyampaikan keberatan terhadap penggunaan simbol seperti pakaian yang menyerupai biarawati, parodi ritual keagamaan, serta unsur-unsur yang mereka nilai sebagai penghinaan terhadap iman Kristen.

Kelompok yang melakukan protes menegaskan bahwa keberatan mereka bukan semata-mata karena gedung tersebut pernah menjadi gereja, melainkan karena mereka merasa simbol dan ajaran Kristen digunakan sebagai bahan lelucon atau pertunjukan.

Selain persoalan simbol agama, kontroversi juga muncul terkait dana hibah pemerintah sebesar 100.000 dolar Australia yang diberikan untuk mendukung kegiatan seni di tempat tersebut. Sebagian pihak mempertanyakan apakah dana publik seharusnya digunakan untuk mendukung acara yang dianggap menyinggung keyakinan kelompok tertentu.

Setelah gelombang protes terjadi, pihak pengelola gedung memberikan pemberitahuan agar Divine Playhouse menghentikan aktivitas yang dianggap menimbulkan keberatan. Jika tidak, kontrak sewa tempat tersebut dapat terancam. Akibatnya, pengelola membatalkan sejumlah acara yang telah dijadwalkan dan sedang mempertimbangkan langkah hukum.

Pendiri Divine Playhouse, Kat Dopper, mengatakan pihaknya tidak bermaksud menghina keyakinan agama tertentu. Ia menyatakan tempat tersebut dibuat untuk mendukung seni, kreativitas, dan komunitas, serta pihaknya telah melakukan perubahan setelah mendengar keberatan yang muncul.

Di sisi lain, sejumlah pihak membela keberadaan tempat tersebut dengan alasan kebebasan berekspresi dan kebebasan seni. Mereka menilai bahwa penolakan terhadap sebuah karya seni tidak seharusnya langsung berujung pada penutupan sebuah ruang budaya.

Peristiwa ini akhirnya menjadi perdebatan yang lebih luas mengenai batas antara kebebasan berekspresi, penghormatan terhadap keyakinan agama, serta tanggung jawab ketika menggunakan simbol-simbol yang memiliki makna penting bagi suatu komunitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!