Lentera Takjub – Hari itu di tahun 1960, angin panas menyusup dari celah jendela gereja tua di Van Nuys, California. Wilayah Lembah San Fernando yang dulunya penuh kebun jeruk, kini pelan-pelan telah menjadi semacam mimpi buruk urban. Kamu bisa membayangkannya lewat rumah-rumah petak, bar karaoke kotor, dan toko perabotan yang tutup sebelum tengah hari.
Di sudut jalan Sherman Way dan Sepulveda, berdiri St. Mark’s Episcopal Church, bangunan gereja bata merah bergaya gothic revival yang tampak lelah. Dindingnya diselimuti ivy kering, salibnya miring karena badai musim gugur lalu, dan suara loncengnya yang terdengar setua bangunannya.
Di dalam gereja itu, berdiri seorang pria bernama Dennis J. Bennett. Ia bukan pengkhotbah dramatis. Bajunya liturgi putih polos, matanya jernih, meskipun salah satu matanya kabur sebelah sejak muda akibat serpihan kaca dari kecelakaan di laboratorium kimia.
Pagi itu, ia berdiri dan berkata dengan suara yang agak pecah:
“Aku telah dibaptis dalam Roh Kudus… dan aku… aku kini berbicara dalam bahasa lidah.”
Sebagian jemaat menegang. Seorang wanita tua menggenggam tasnya erat-erat. Seorang veteran perang di barisan belakang mengernyit, lalu berdiri dan berjalan keluar tanpa suara.
Bennett tahu hari itu akan menjadi akhir dari kenyamanan. Tapi juga permulaan dari sesuatu yang akan mengubah dunia Kristen modern.
Di Sisi Lain Kota – Komunitas Hitam
Sementara itu, di bagian lain Los Angeles, tepatnya di Watts, terdapat komunitas kulit hitam yang hidup di bawah bayang-bayang diskriminasi, pengangguran, dan patroli polisi yang tak segan pakai kekerasan.
Tapi di saat yang sama, di dalam gereja-gereja kecil dari kayu, di bawah langit-langit rendah dan kipas angin yang bunyinya lebih keras dari doa, suara-suara Roh juga sedang bangkit.
Seorang pendeta hitam bernama William Durham, yang pernah menjadi saksi kebangunan Azusa Street di awal abad 20, berkata dengan lantang:
“Roh Kudus tidak butuh izin untuk bicara melalui dirimu, Sayang. Kamu cukup membuka hati. Biar Dia menyala di dalammu,”
Musik gospel memimpin. Organ Hammond berteriak. Jemaat menari dan menyanyi seakan mereka akan lepas dari bumi.
Duquesne, 1967 – Kobaran Api di Bangku Kuliah
Tujuh tahun setelah Bennett bicara, di sebuah universitas Katolik bernama Duquesne, Pennsylvania, beberapa mahasiswa menghadiri retret rohani.
Di sana, di ruang doa sederhana dengan lilin menyala dan salib kecil di dinding, seorang gadis menangis sambil berdoa. Lalu tubuhnya gemetar, dan dari mulutnya keluar bahasa yang tidak ia mengerti.
Pemandangan itu membuat teman-temannya tertegun. Mereka mulai berdoa. Satu per satu, bahasa roh muncul. Api menyebar.
Mereka kemudian menulis surat, merekam doa-doa mereka, dan mengirim kaset ke kampus lain. Dalam beberapa bulan, kebangunan itu menyentuh ribuan mahasiswa. Dari Katolik ke Protestan. Dari gereja besar sampai gang kecil. Bahkan biarawati di Irlandia mulai menyanyi dalam lidah Roh.
Itulah rahasia besar Karismatik, di mana musik adalah pintu. Ketika logika tak bisa lagi menampung rasa haus akan Tuhan, maka tubuh, lewat lagu, tangan, dan air mata, akan menjadi medianya.
“Roh Kudus tidak datang pada yang kuat. Ia datang pada yang remuk. Pada yang siap berkata: ‘Aku tak tahu apa-apa lagi. Bawa aku.’” catatan di Alkitab bekas milik Dennis Bennett.