Bethsaida Ditemukan? Arkeolog Ungkap Jejak Kota dalam Injil

Lentera Takjub — Setelah sekitar satu dekade penggalian, para arkeolog di Israel semakin yakin bahwa mereka telah menemukan lokasi Bethsaida, kota yang beberapa kali disebut dalam Perjanjian Baru dan berkaitan erat dengan pelayanan Yesus serta asal beberapa rasul.

Situs yang menjadi kandidat utama tersebut adalah El-Araj, yang terletak di pantai timur laut Danau Galilea, tidak jauh dari muara Sungai Yordan. Penggalian di lokasi ini dimulai pada 2016 dan dipimpin oleh arkeolog Mordechai Aviam bersama Steven Notley, akademisi Perjanjian Baru sekaligus direktur akademik proyek El-Araj.

Setelah sepuluh musim penggalian, Notley menyatakan pada September 2026 bahwa dirinya 100 persen yakin El-Araj merupakan Bethsaida. Meski demikian, identifikasi tersebut belum sepenuhnya diterima oleh semua peneliti. Situs et-Tell, yang juga berada di kawasan Danau Galilea, masih dipertahankan sebagian arkeolog sebagai kandidat Bethsaida.

Perdebatan tersebut membuat El-Araj menjadi salah satu situs arkeologi yang menarik perhatian, terutama karena berbagai temuan di dalamnya mulai memperlihatkan gambaran sebuah permukiman Yahudi yang hidup pada periode yang sangat dekat dengan masa kehidupan Yesus.

Jejak Permukiman dari Zaman Yesus

Penggalian di El-Araj menemukan berbagai benda yang menunjukkan adanya aktivitas masyarakat Yahudi pada periode Romawi awal. Di antaranya terdapat ribuan pemberat jaring ikan, wadah batu yang berkaitan dengan praktik masyarakat Yahudi, tembikar, koin, lampu minyak, bangunan tempat tinggal, hingga sebuah pemandian bergaya Romawi.

Temuan pemberat jaring ikan menjadi petunjuk penting karena sesuai dengan gambaran Bethsaida dalam sumber-sumber kuno sebagai permukiman yang memiliki hubungan kuat dengan kegiatan perikanan di Danau Galilea.

Kawasan permukiman kuno tersebut diperkirakan setidaknya mencapai sekitar 15 acre atau kurang lebih 6 hektare. Setelah kebakaran pada 2025 membersihkan sebagian vegetasi di kawasan tersebut, para peneliti dapat melakukan survei permukaan yang lebih luas dan memperoleh gambaran mengenai ukuran permukiman.

Lebih dari 200 koin yang ditemukan di lokasi juga sedang dipelajari untuk membantu menentukan kronologi aktivitas di situs tersebut.

Rangkaian bukti itu menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan sejarah Bethsaida. Menurut sejarawan Yahudi-Romawi Flavius Josephus, Bethsaida kemudian dikembangkan menjadi sebuah kota oleh Herodes Filipus dan dinamai Julias.

Keberadaan unsur-unsur perkotaan Romawi, termasuk pemandian, dipandang para peneliti El-Araj sebagai bagian penting dari gambaran tersebut. Dengan kata lain, situs ini tidak hanya memperlihatkan sebuah desa nelayan, tetapi juga menunjukkan adanya perkembangan menjadi permukiman yang lebih bercorak perkotaan.

Gambaran tersebut memiliki hubungan langsung dengan kisah-kisah dalam Perjanjian Baru.

Yohanes 1:44 menyebut Bethsaida sebagai kota asal Filipus. Petrus dan Andreas juga dikaitkan dengan kota tersebut. Bethsaida kemudian muncul dalam sejumlah kisah pelayanan Yesus, termasuk ketika Yesus menyembuhkan seorang buta sebagaimana dicatat dalam Markus 8:22–26.

Dalam Lukas 9:10–17, wilayah Bethsaida juga menjadi bagian dari rangkaian peristiwa ketika Yesus memberi makan sekitar 5.000 orang. Bethsaida bahkan disebut secara khusus dalam teguran Yesus terhadap kota-kota yang telah menyaksikan pelayanan-Nya tetapi tidak bertobat.

“Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau, Betsaida!”
— Matius 11:21

Jika El-Araj memang merupakan Bethsaida, maka situs tersebut memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung lingkungan geografis dan sosial tempat sejumlah peristiwa dalam pelayanan Yesus berlangsung.

Property of: Steven Notley/FoxNews
Property of: Steven Notley/FoxNews

Basilika Bizantium dan Tradisi tentang Petrus

Menariknya, bukti yang menghubungkan El-Araj dengan tradisi Kristen mengenai Bethsaida tidak berhenti pada lapisan permukiman dari zaman Romawi.

Di atas kawasan tersebut ditemukan sebuah basilika Bizantium yang dibangun beberapa abad setelah masa Yesus. Bangunan itu berukuran sekitar 88 × 52 kaki, atau kurang lebih 27 × 16 meter, dan memiliki lantai mosaik serta sejumlah prasasti.

Salah satu temuan penting muncul pada 2022 ketika para arkeolog menemukan sebuah prasasti berbahasa Yunani pada mosaik gereja. Prasasti tersebut menyebut seorang donatur bernama Constantine dan memohon perantaraan Petrus, yang disebut sebagai “kepala dan pemimpin para rasul surgawi”.

Prasasti yang berusia lebih dari 1.500 tahun itu menjadi salah satu petunjuk penting mengenai hubungan gereja tersebut dengan tradisi Kristen tentang Petrus.

Namun, temuan tersebut tidak berarti para arkeolog telah menemukan rumah Petrus secara pasti.

Yang ditemukan adalah sebuah basilika Bizantium yang, berdasarkan tradisi Kristen kuno, diyakini dibangun di atas lokasi rumah Petrus dan Andreas. Tradisi tersebut juga mendapat dukungan dari catatan peziarah Kristen abad ke-8 bernama Willibald. Dalam catatannya, Willibald menyebut sebuah gereja di Bethsaida yang dipercaya berdiri di atas rumah Petrus dan Andreas.

Lokasi yang digambarkan dalam catatan tersebut dinilai oleh para peneliti memiliki kesesuaian dengan El-Araj.

Karena itu, identifikasi El-Araj sebagai Bethsaida tidak bertumpu pada satu benda atau satu prasasti saja. Argumennya dibangun dari gabungan berbagai bukti: lokasi geografis, lapisan permukiman dari periode Romawi, aktivitas perikanan, perkembangan kota pada masa Herodes Filipus, keberadaan pemandian Romawi, basilika Bizantium, prasasti yang menyebut Petrus, serta tradisi ziarah Kristen kuno.

Meski demikian, penelitian masih jauh dari selesai.

El-Araj saat ini bukan lagi sebuah kota yang dihuni. Yang terlihat di permukaan adalah situs arkeologi dengan fondasi bangunan kuno, sisa permukiman Romawi, struktur pemandian, serta basilika Bizantium dengan lantai mosaiknya. Sebagian besar kawasan kota kuno tersebut masih berada di bawah tanah dan belum sepenuhnya digali.

Para peneliti masih berusaha membuka lebih banyak bagian permukiman untuk mengetahui ukuran dan tata ruangnya, terutama kawasan hunian yang belum diteliti secara menyeluruh. Mereka juga mempelajari ratusan koin dan berbagai temuan lain untuk memperjelas kronologi kehidupan di situs tersebut.

Bahkan pada basilika Bizantium sendiri masih terdapat pertanyaan yang belum terjawab. Situs resmi proyek El-Araj menyebut bahwa para arkeolog belum menemukan pintu masuk bangunan gereja tersebut, sehingga struktur dan fungsi keseluruhan kompleks masih terus dipelajari.

Untuk saat ini, kesimpulan yang paling hati-hati adalah bahwa El-Araj merupakan salah satu kandidat terkuat untuk lokasi Bethsaida.

Temuan di sana menunjukkan adanya permukiman Yahudi dari periode yang sesuai dengan zaman Perjanjian Baru, aktivitas perikanan yang kuat, perkembangan menjadi kawasan bercorak perkotaan pada masa Romawi, serta sebuah basilika Bizantium yang kemudian dikaitkan dengan tradisi tentang Petrus dan Andreas.

Namun, perdebatan arkeologis belum berakhir. Belum ada kesepakatan universal bahwa El-Araj adalah Bethsaida.

Justru karena itulah penggalian berikutnya menjadi penting. Setiap lapisan tanah yang dibuka berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai seperti apa kehidupan masyarakat di sekitar Danau Galilea pada masa Yesus, bagaimana Bethsaida berkembang, dan apakah kota yang disebut berulang kali dalam Injil itu memang berada di tempat yang kini dikenal sebagai El-Araj.

Jika identifikasi tersebut pada akhirnya diterima secara luas, El-Araj akan menjadi salah satu situs arkeologi paling penting untuk memahami dunia tempat Yesus dan para rasul menjalankan pelayanan mereka di kawasan Danau Galilea.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *