Lentera Takjub – Sebelum memulai review ini, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada sutradara Seong-ho Jang, meski sama sekali tidak mengenalnya.
Alasannya sederhana. Karena lewat film The King of Kings, kini saya punya cara yang lebih mudah untuk mengenalkan anak saya kepada Sang Raja Manusia.
Bahkan ada harapan, tokoh ini kelak bisa menggantikan Batman atau Spider-Man yang sudah lama menduduki podium satu di kepalanya. Hehe, semoga saja.
Memang, ini bukan pertama kalinya Yesus difilmkan dalam bentuk animasi. Namun baru kali ini, visi dan misi-Nya bisa tersampaikan dengan baik tanpa harus terlalu detail menyingkap bagian getir dari kisah-Nya.

Untuk menghadirkan semua itu, Seong-ho Jang punya rahasia kecil dalam resepnya, yaitu menyelipkan elemen dari novel The Life of Our Lord karya Charles Dickens.
Gaya penceritaan melalui sudut pandang Dickens dan putranya, Walter, membuat alur film ini terasa berbeda. Penonton seakan diajak piknik ke jalanan Yerusalem 2000 tahun silam, menyaksikan peristiwa besar dengan nuansa yang dekat sekaligus akrab.
Semua itu dikemas dalam visual ala Disney atau Pixar yang ramah, hangat dan penuh warna. Sehingga, anak-anak bisa menikmati dengan aman tanpa kehilangan makna rohaninya.

Berawal dari Tulisan Charles Dickens
Film ini dibuka lewat ulah Walter, bocah kema**an yang sedang tergila-gila dengan King Arthur.
Seperti kesurupan roh tukang atraksi pedang era medieval, ia berlarian ke sana kemari sambil memainkan pedang mainannya. Tingkahnya akhirnya membuat sang ayah, Charles Dickens, yang merupakan seorang sastrawan ternama, kehilangan kesabaran dan memarahinya.
Namun hati seorang ayah selalu punya ruang untuk luluh. Atas bujukan istrinya, Dickens kemudian mendatangi Walter yang sedang merajuk di kamar. Ia mengembalikan pedang mainan yang sempat disita, sekaligus menawarkan sebuah cerita tentang Raja yang jauh lebih agung daripada Arthur. Raja yang sesungguhnya.
Dari sinilah inti film ini benar-benar dimulai. Melalui suara narasi Dickens yang lembut, imajinasi Walter dibawa menembus waktu ke dua ribu tahun silam, menyaksikan mukjizat dan perjalanan Yesus Kristus.

Mudah Dipahami Anak-anak
The King of Kings dibintangi oleh sederet nama besar seperti Kenneth Branagh, Uma Thurman, Mark Hamill, Pierce Brosnan, Roman Griffin Davis, Forest Whitaker, Ben Kingsley hingga Oscar Isaac.
Tetapi, yang membuat The King of Kings istimewa bukan hanya para pengisi suara dan visualnya, tetapi bagaimana film ini mampu menjadi jembatan antara iman dan imajinasi anak.
Selain kehadiran Walter yang seolah menjadi perwakilan penonton anak-anak, dialog dan alur film ini juga mudah dipahami mereka tanpa membuat gaya penceritaannya dangkal.
Meski ada beberapa perubahan kecil dalam cerita untuk memuluskan alur, hal itu tidak mengurangi esensi utama yang ingin disampaikan.
Hingga menjelang akhir, The King of Kings berhasil menjaga kualitas cerita dan ritme. Beberapa adegan mengharukan juga tersuguh dengan manis, menambah kedalaman pesan yang ingin dibawa.

Pada akhirnya, The King of Kings adalah film animasi yang bukan hanya menghibur, tetapi juga bukti bahwa kisah Yesus bisa dikemas dengan cara yang indah, ringan dan penuh makna.
Jika selama ini anak-anak kita lebih akrab dengan pahlawan super berbalut kostum, mungkin sudah saatnya memperkenalkan mereka pada Sang Raja yang kisah kepahlawanannya nyata dan kekal.
Dengan skor 7.5, film ini, beserta segala kehangatannya, layak disebut sebagai awal yang indah.