Walkaway Joe Review: Tingkah Ayah-Anak yang Bikin Stres Penonton

Lentera Takjub – Kalau kamu belum berdamai dengan ‘setan’ dalam dirimu, lalu memutuskan untuk menikahi seseorang dengan harapan bahwa pernikahan itu akan menyelamatkanmu, CONGRATS! Kamu baru saja menyeret orang lain masuk ke lubang hitam yang kamu gali sendiri.

Keras? Mungkin. Tapi mari kita jujur.

Kalimat di atas kemungkinan enggak akan kamu temukan di quote-quote Instagram yang sekarang sibuk jadi terapis gratis berbalut estetik. Itu karena para pembuat konten lebih suka menyebarkan dongeng happy ever after, sebuah narasi turun-temurun bahwa pernikahan adalah penyelamat, titik balik hidup, atau obat mujarab dari luka batin masa lalu.

Kabar baiknya, memang ada yang berhasil. Ada yang sembuh, tumbuh, dan saling jadi rumah (ikut berbahagia buat mereka!). Tetapi kabar buruknya, banyak juga lho yang tumbang.

Menurut data WHO dan American Psychological Association (APA, 2021), 1 dari 3 pasangan mengalami gangguan relasi serius yang bersumber dari masalah pribadi yang belum selesai sebelum menikah.

Di Indonesia sendiri, data BPS tahun 2023 menyebutkan bahwa 58% penyebab perceraian berasal dari pertengkaran terus-menerus, yang akarnya adalah ketidakdewasaan emosional.

Artinya? Ini sama sekali bukan masalah sepele. Dan premis inilah yang coba disampaikan Tom Wright lewat film debutnya, Walkaway Joe.

Melalui naskah yang ditulis oleh Michael Milillo, Tom mengangkat satu fakta pahit yang kerap dihindari, yakni bahwa orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri, cepat atau lambat akan jadi racun bagi orang terdekatnya.

Sayangnya, film ini enggak sukses secara kritik. Rotten Tomatoes bahkan menyematkan tomat busuk padanya, dengan cap “gagal mengantarkan pesan.” Terkait hal ini, saya mungkin enggak setuju sama capnya, tapi enggak bisa menampik banyaknya cela yang membuat upaya menyelesaikan film ini terasa seperti sebuah perjuangan.

Tapi, di balik itu semua, Walkaway Joe tetap menarik dibahas dari sisi psikologi para tokohnya. Khususnya si Cal (diperankan oleh Jeffrey Dean Morgan)! Pria yang bolak-balik bikin ulah, dan pada akhirnya… kabur dari tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Ayo kita bahas sosok pieces of sh** yang satu ini…

Sebenarnya, sebagai pecundang, Cal sangatlah jauh dari kesan pria jelek, lusuh, bau, dan tukang maki.

Sebaliknya, Cal tampil sebagai seorang prince charming yang ganteng, rapi, soft spoken, dan penuh daya tarik. Pesona itulah yang bikin ia jadi racun yang halus, apalagi bagi anak remajanya, Dallas, yang menganggapnya sebagai role model.

Di mata Dallas, Cal sempurna tanpa cela. Apalagi ia juga mewarisi bakat Cal sebagai pemain bilyar yang hebat.

Dallas bahkan bangga ketika sang ayah menjadikannya ‘ayam adu’ melawan para pemain bilyar, untuk taruhan uang. Dallas yang seharusnya sadar akan hal itu, justru merasa sedang dididik, dan kian hormat pada ayahnya. Ia bahkan tak segan-segan melawan ibunya demi membela Cal.

Sayangnya, Dallas ternyata tidak seberarti itu di mata Cal. Ia bahkan tega meninggalkan Dallas dengan begitu saja pergi dari rumah, dan memilih untuk tak pernah kembali.

Marah dan patah hati, Dallas ikut kabur dari rumah dan memulai perjalanan mencari sang ayah. Di tengah pelariannya, ia bertemu dengan Joe (David Strathairn), pria tua penyendiri yang dihantui rasa bersalah atas kematian anaknya. Mereka pun menempuh perjalanan bersama, secara fisik, maupun emosional.

Singkat cerita, perjalanan itu menjadi proses penyembuhan tanpa mereka sadari. Dallas perlahan belajar arti kehadiran ayah lewat Joe dan mampu memahami sosok ‘setan’ yang selama ini jadi penyebab tabiat buruk Cal.

Sementara Joe, akhirnya berani menghadapi masa lalunya, setelah bertahun-tahun hidup dalam penyesalan..

Musik Country, Pemandangan Indah, dan Dialog yang Minim

Walkaway Joe sebenarnya punya potensi besar untuk melesat. Musik country dan lanskap Amerika yang luas serta melankolis mampu menciptakan atmosfer yang hangat sekaligus sepi. Sayangnya, kesemua itu nyaris tenggelam karena naskah yang lemah dan pengembangan karakter yang dangkal.

Dua bintang utamanya, Jeffrey dan Strathairn, terlihat seperti terperangkap dalam naskah yang tak memberi ruang untuk bersinar. Dialog yang minim, konflik yang dangkal, dan pacing yang tidak konsisten, membuat film ini terasa berat… bukan karena emosinya, tapi karena energinya seperti disedot habis.

Masalah lain datang dari karakter Dallas yang diperankan oleh Julian Feder. Sosok ini, alih-alih menimbulkan simpati sebagai anak remaja yang kehilangan arah dan merindukan sosok ayah, justru sering terasa menyebalkan dan keras kepala tanpa fondasi emosional yang kuat.

Padahal dari sudut pandang cerita, karakter Dallas seharusnya menjadi jembatan bagi penonton untuk merasakan luka yang dialaminya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ketika Dallas sedang marah, bingung, atau bahkan hancur, penonton terdorong untuk mengeluh… bukan ikut peduli.

Akibatnya celakalah sudah. Menghabiskan film ini akhirnya terasa jadi tantangan tersendiri. Terlebih setelah melihat tingkah Dallas yang semakin menjadi-jadi, sebelum akhirnya tersadarkan.

Awas Spoiler

Pada akhirnya, Dallas yang berhasil menemukan ayahnya, harus menelan pil pahit lantaran pria kebanggaannya tersebut menolak untuk kembali. Namun demikian, Dallas yang telah mengalami perjalanan penuh makna bersama Joe, pulang dalam keadaan mental yang utuh.

Ia sadar bahwa setiap orang memiliki ‘setan’ dalam diri mereka. Dan yang bisa mengatasi setan itu adalah diri mereka sendiri. Bukan pasangan, anak, orang tua, cinta apalagi pernikahan.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan tentang dua orang yang saling menambal luka. Tapi tentang dua orang yang sadar bahwa mereka punya luka, dan memilih untuk menyembuhkannya dulu, sebelum saling merangkul.

Bagi saya Walkaway Joe layak dapat skor 6. Meskipun tidak sempurna, film ini berhasil menyuarakan pesannya dengan cara yang pelan tapi tajam. Silahkan tonton di Prime kalau pas lagi enggak ada film yang bagus.

error: Content is protected !!