4 Injil Kanonik: Sejarah, Ciri Khas, dan Peranannya dalam Kekristenan

Lentera Takjub – Seperti kita ketahui, injil adalah inti dari Perjanjian Baru dan menjadi jantung ajaran iman Kristen. Dan di antara berbagai tulisan yang berkembang pada abad pertama, hanya ada empat Injil kanonik yang diakui sebagai kitab suci oleh Gereja Kristen awal. Kanonik sendiri artinya lulus secara teologis, historis, dan doktrinal oleh gerjea mula-mula, tepatnya di abad 2 hingga 4.

Keempat injil kanonik itu adalah Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Injil ini ditulis pada tahun 50-90 M, hanya beberapa dekade setelah peristiwa salib. Keempatnya dipercaya mencerminkan kesaksian sejati tentang kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus.

Namun, apa yang membedakan keempat Injil ini satu sama lain? Siapa yang menulisnya? Dan mengapa hanya empat yang dipilih, sementara ada begitu banyak tulisan lain yang juga menyebut diri sebagai injil? Mari kita telusuri satu per satu.

Mengapa Hanya Empat?

Pertama-tama, perlu diketahui terlebih dahulu jika Yesus sendiri tidak pernah menulis injil atau kitab apapun. yang Yesus lakukan adalah mengajar secara lisan, serta melakukan mukjizat dan hidup sebagai teladan.

Setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, barulah para murid dan pengikut-Nya mencatat perkataan dan peristiwa hidup-Nya. Inilah yang kemudian menjadi Injil (dari kata Yunani euangelion, yang artinya kabar baik).

Dari sekian banyak injil yang ditulis, Gereja Kristen awal menetapkan Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sebagai empat Injil kanonik karena beberapa alasan.

Pertama, keempatnya dikenal luas dan digunakan secara aktif dalam ibadah komunitas Kristen sejak generasi pertama. Kedua, penulis-penulisnya berkaitan langsung dengan para rasul atau saksi mata peristiwa. Dan yang ketiga, isi dan ajarannya konsisten dengan Injil Yesus sebagaimana diberitakan sejak mula.

Injil Matius: Yesus Sang Raja Mesias

Injil pertama dalam urutan Alkitab ditulis oleh Matius, seorang mantan pemungut cukai yang kemudian menjadi murid Yesus. Ia menulis Injilnya terutama untuk pembaca Yahudi, dan karena itu sangat menekankan bagaimana kehidupan dan karya Yesus menggenapi nubuat-nubuat dalam Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama).

Salah satu ciri khas Injil Matius adalah banyaknya kutipan dari nubuat nabi-nabi, yang dihubungkan langsung dengan peristiwa-peristiwa dalam hidup Yesus. Matius juga menampilkan silsilah Yesus yang ditarik dari Abraham hingga Yusuf, untuk menegaskan bahwa Yesus adalah keturunan Daud dan pewaris takhta kerajaan Israel. Ia juga mencatat khotbah-khotbah besar Yesus, termasuk Khotbah di Bukit, yang menjadi dasar ajaran etika Kristen.

Injil Markus: Injil Penuh Aksi

Berbeda dari Matius yang menyusun narasinya dengan banyak ajaran, Injil Markus tampil padat, cepat, dan dinamis. Penulisnya, Markus , yang juga dikenal sebagai Yohanes Markus kemungkinan menulis berdasarkan kesaksian Rasul Petrus. Markus menyampaikan gambaran Yesus sebagai pribadi yang penuh kuasa, namun juga menderita.

Injil ini ditulis untuk pembaca non-Yahudi, khususnya di dunia Romawi, sehingga tak banyak menyertakan latar belakang Yahudi atau kutipan dari Perjanjian Lama. Ia tidak memulai kisahnya dari kelahiran Yesus, melainkan langsung dari pelayanan Yohanes Pembaptis dan baptisan Yesus. Penekanannya lebih kepada tindakan Yesus, yakni mukjizat, pengusiran roh jahat, dan konfrontasi dengan pemuka agama, yang menunjukkan otoritas-Nya.

Injil Lukas: Yesus untuk Semua Bangsa

Lukas adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang bukan Yahudi, melainkan seorang tabib Yunani dan sahabat perjalanan Rasul Paulus. Ia menulis Injilnya dengan gaya yang teratur dan sistematis, seperti seorang sejarawan yang sedang menyusun laporan yang bisa dipercaya. Injil Lukas ditujukan kepada seorang tokoh bernama Teofilus dan ditulis untuk pembaca non-Yahudi.

Ciri khas Lukas adalah kepeduliannya terhadap orang-orang yang sering diabaikan seperti perempuan, anak-anak, orang miskin, dan kaum tersingkir. Ia menyajikan kisah kelahiran Yesus secara mendalam, termasuk latar belakang kelahiran Yohanes Pembaptis dan pujian Maria yang dikenal sebagai Magnificat. Silsilah Yesus dalam Lukas tidak berhenti pada Abraham, tapi ditelusuri hingga Adam, menunjukkan bahwa Yesus datang bagi seluruh umat manusia.

Injil Yohanes: Firman yang Menjadi Manusia

Injil Yohanes berdiri agak berbeda dari tiga Injil lainnya (yang sering disebut “sinoptik”). Ditulis paling akhir, Injil ini tidak fokus pada kronologi kejadian atau pengulangan peristiwa yang sudah dicatat dalam Matius, Markus, dan Lukas. Sebaliknya, Yohanes lebih menekankan makna teologis dari siapa Yesus itu.

Dimulai dengan kalimat terkenal, “Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”, Injil ini menegaskan keilahian Yesus sejak awal.

Yohanes menyusun kisahnya melalui tujuh tanda atau mukjizat utama, serta tujuh pernyataan Yesus yang dimulai dengan “Akulah,” seperti “Akulah terang dunia,” “Akulah pintu,” dan “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Yohanes tidak mencatat perumpamaan, tapi lebih banyak menyajikan percakapan-percakapan panjang dan reflektif, seperti dengan Nikodemus atau perempuan Samaria.

Satu Yesus, Empat Sudut Pandang

Dalam empat injil kanonik, Matius melihat Yesus sebagai Raja yang dijanjikan, Markus melihat-Nya sebagai Hamba yang berkuasa, Lukas melihat-Nya sebagai Penyelamat umat manusia, dan Yohanes menyatakan-Nya sebagai Firman yang menjadi manusia.

Yang pasti, keempat Injil ini tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi, memberikan gambaran yang kaya dan utuh tentang siapa Yesus sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!