Lentera Takjub – Dua gereja bersejarah di Kota Mosul, Irak, kembali dibuka setelah hampir satu dekade hancur akibat pendudukan kelompok ISIS. Pembukaan ini menjadi simbol kebangkitan iman dan harapan baru bagi komunitas Kristen yang telah lama tertekan oleh konflik dan pengungsian.
Gereja Santo Thomas yang beraliran Suryani Ortodoks dan Gereja Al-Tahira (The Immaculate) milik Katolik Khaldea, kini berdiri kembali setelah proses restorasi yang dimulai pada tahun 2022. Upacara pembukaan dihadiri oleh masyarakat setempat, pemimpin gereja, serta perwakilan lembaga internasional yang mendukung proyek tersebut.
Kedua gereja yang terletak di kawasan Kota Tua Mosul itu sempat menjadi simbol penderitaan umat Kristen. Gereja Santo Thomas pernah dijadikan penjara oleh ISIS, sementara Al-Tahira luluh lantak akibat serangan bom.
Kini, lonceng-lonceng gereja yang telah direstorasi kembali berdentang, membawa pesan damai bagi seluruh warga Mosul.
Proses pemulihan dilakukan oleh Aliph Foundation bekerja sama dengan L’Oeuvre d’Orient dan Institut du Patrimoine National Prancis, dengan dukungan Dewan Purbakala dan Warisan Irak. Sebelum dimulai, tim restorasi terlebih dahulu membersihkan ranjau dan bahan peledak yang tertinggal di area gereja.
Selain memperbaiki bangunan fisik, para pemimpin gereja menekankan pentingnya pemulihan spiritual dan sosial masyarakat Mosul. Uskup Agung Khaldea Mosul, Mgr. Najeeb Michael Moussa, menyampaikan bahwa pembukaan ini bukan hanya tentang membangun kembali dinding, tetapi juga tentang menyalakan kembali semangat iman dan persaudaraan.
“Iman bisa terluka, tetapi tidak pernah padam,” ujarnya seperti dikutip dari Christian Post, 20/10/2025. “Setiap dentang lonceng memanggil bukan hanya orang percaya, tetapi juga masa depan.”
Patriark Louis Raphaël Sako, yang memimpin pembukaan Gereja Al-Tahira, menambahkan bahwa momen ini adalah pesan kepercayaan dan perdamaian bagi seluruh rakyat Irak. Ia menegaskan pentingnya membangun kehidupan berbangsa di atas dasar persaudaraan, saling menghargai, dan keadilan, tanpa kekerasan maupun sektarianisme.
Kini, meski jumlah umat Kristen di Mosul tersisa kurang dari 60 keluarga dari populasi dua juta jiwa, kehadiran kembali dua gereja ini menjadi tanda bahwa harapan belum hilang. Gereja bukan sekadar bangunan batu, melainkan jejak iman dan bukti bahwa kasih Tuhan tetap bekerja di tengah reruntuhan sejarah.