Lentera Takjub — Dalam perjalanan mengikut Yesus, ada satu hal penting yang harus dipahami oleh setiap orang percaya.
Mengenal Yesus bukan hanya tentang mengetahui bahwa Dia sanggup melakukan mukjizat, menyembuhkan penyakit, atau menolong dalam kesulitan.
Lebih dari itu, mengenal Yesus berarti memahami siapa Dia, dan bersedia menyerahkan hidup untuk mengikuti kehendak-Nya.
Hal inilah yang menjadi bagian penting dalam Markus 8.
Setelah sebelumnya para murid menyaksikan berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus, kini Yesus membawa mereka kepada sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, tentang siapa sebenarnya diri-Nya?
Pertanyaan itu bukan hanya untuk para murid pada masa itu. Pertanyaan yang sama juga datang kepada kita hari ini.
Apakah Yesus hanya menjadi Pribadi yang kita cari ketika membutuhkan pertolongan? Atau apakah Dia benar-benar Tuhan yang kita percayai untuk memimpin seluruh kehidupan kita?
Siapakah Yesus Menurut Kita?
Dalam perjalanan menuju Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya,
“Kata orang, siapakah Aku ini?”
(Markus 8:27)
Para murid menjawab bahwa ada orang yang menganggap Yesus sebagai Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan Elia, dan ada pula yang mengatakan salah satu dari para nabi.
“Jawab mereka: Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, ada pula yang mengatakan seorang dari para nabi.”
(Markus 8:28)
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa banyak orang telah melihat pekerjaan Yesus. Mereka melihat kuasa-Nya, mendengar pengajaran-Nya, dan menyaksikan berbagai mukjizat yang dilakukan-Nya. Namun, meskipun melihat banyak hal, mereka belum memahami siapa Yesus yang sebenarnya.
Kemudian Yesus mengajukan pertanyaan yang lebih pribadi kepada murid-murid-Nya.
“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”
(Markus 8:29)
Petrus menjawab,
“Engkau adalah Mesias!”
(Markus 8:29)
Petrus memberikan jawaban yang benar. Ia memahami bahwa Yesus bukan sekadar guru atau nabi, melainkan Mesias yang dijanjikan Allah.
Namun, pengakuan itu belum berarti Petrus sudah memahami sepenuhnya rencana Allah. Ia tahu siapa Yesus, tetapi ia belum memahami bagaimana Yesus akan menyelesaikan karya-Nya.
Ketika Jalan Tuhan Berbeda dengan Harapan Manusia
Setelah Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias, Yesus mulai menjelaskan sesuatu yang sulit diterima oleh para murid.
“Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.”
(Markus 8:31)
Bagi para murid, perkataan ini sangat mengejutkan. Mereka memiliki gambaran bahwa Mesias akan datang sebagai Raja yang menang dan membawa kejayaan. Mereka tidak membayangkan bahwa Mesias harus mengalami penderitaan dan kematian.
Karena itu, Petrus kemudian menarik Yesus ke samping dan mulai menegur-Nya.
“Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya. Ia memarahi Petrus ‘Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.’ kata Yesus.”
(Markus 8:33)
Teguran Yesus bukan karena Petrus tidak peduli kepada-Nya. Justru Petrus mungkin merasa sedang melindungi Yesus. Namun masalahnya adalah Petrus melihat rencana Allah dengan cara pandang manusia.
Petrus ingin Mesias tanpa penderitaan. Ia ingin kemenangan tanpa salib. Tetapi rencana keselamatan Allah memang harus melalui jalan yang telah ditentukan-Nya.
Lalu, apa Arti Mengikuti Yesus?
Setelah itu, Yesus memanggil orang banyak bersama murid-murid-Nya dan berkata,
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
(Markus 8:34)
Perkataan Yesus ini menjelaskan bahwa menjadi murid bukan hanya tentang percaya kepada-Nya, tetapi juga tentang menyerahkan hidup kepada-Nya.
Kata menyangkal diri di sini bukan berarti membenci diri sendiri atau menganggap diri tidak berharga.
Maksudnya adalah tidak lagi menjadikan keinginan pribadi sebagai pusat kehidupan. Karena seorang pengikut Kristus dipanggil untuk menempatkan kehendak Allah di atas keinginan dirinya sendiri.
Memikul salib juga bukan hanya berbicara tentang menghadapi masalah atau kesulitan hidup. Pada zaman Yesus, salib adalah lambang penderitaan dan penyerahan total. Yesus sedang menjelaskan bahwa mengikuti Dia membutuhkan kesediaan untuk tetap taat kepada Allah, bahkan ketika jalan yang dilalui tidak mudah.
Kemudian Yesus berkata,
“Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia (justru) akan menyelamatkannya.”
(Markus 8:35)
Yesus menunjukkan sebuah prinsip Kerajaan Allah yang berbeda dengan cara pikir dunia. Dunia mengajarkan manusia untuk mempertahankan kepentingan diri, mengejar keberhasilan, dan mendapatkan sebanyak mungkin.
Namun Yesus mengajarkan bahwa hidup yang sejati ditemukan ketika seseorang menyerahkan dirinya kepada Tuhan.
Yesus kemudian memberikan sebuah pertanyaan yang sangat dalam,
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?”
(Markus 8:36)
Melalui pertanyaan ini, Yesus mengingatkan bahwa keberhasilan duniawi bukanlah ukuran utama kehidupan seseorang di hadapan Allah.
Seseorang dapat memiliki kekayaan, kehormatan, dan berbagai pencapaian, tetapi tetap kehilangan hal yang paling penting jika hidupnya jauh dari Tuhan.
Karena itu, Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk melihat kembali apa yang menjadi prioritas hidup mereka.
Apakah kita hanya mengejar apa yang dapat diberikan dunia? Atau apakah kita sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan?
Belajar Menyerahkan Hidup kepada Tuhan
Markus 8 memperlihatkan perjalanan iman para murid. Mereka sudah melihat kuasa Yesus, tetapi mereka masih harus belajar menyerahkan pemikiran dan kehendak mereka kepada Allah.
Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan kita. Kita mungkin percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Kita mungkin sudah mengalami pertolongan-Nya. Namun, masih ada bagian hidup yang sulit kita serahkan kepada-Nya.
Melalui Markus 8, Yesus mengingatkan bahwa mengikuti Dia bukan hanya menerima berkat-Nya, tetapi juga mempercayakan seluruh hidup kepada-Nya.
Sebab Yesus bukan hanya ingin hadir dalam sebagian kehidupan kita. Dia memanggil kita untuk menjadi murid yang menyerahkan seluruh hati, pikiran, dan langkah hidup kepada-Nya.
Refleksi
Tanyakan ke diri sendiri, Siapakah Yesus bagi kita?
Apakah Dia hanya Pribadi yang kita cari ketika membutuhkan pertolongan? Atau Dia benar-benar Tuhan yang menjadi pusat kehidupan kita?
Seperti Petrus dan para murid, kita juga masih terus belajar memahami jalan Tuhan. Namun kabar baiknya, Yesus tidak meninggalkan murid-murid yang masih belajar.
Dia terus mengajar.
Dia terus membentuk.
Dan Dia terus memanggil setiap orang untuk berjalan bersama-Nya.