Love Me Review: Mempelajari Ulang Manusia lewat Rongsokan Milenium

Lentera Takjub – Bayangkan manusia telah punah, dan bumi kembali ke bentuk awal. Gambaran mengenai cara hidup manusia pun perlahan memudar tersapu waktu. Yang tersisa hanyalah puing-puing peradaban, meninggalkan jejak samar yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk diinterpretasikan, seperti sejarah yang butuh ditulis ulang, beserta teka-tekinya yang menunggu untuk dipecahkan.

Dari sinilah premis Love Me muncul. Film ini mengambil sudut pandang dari sebuah AI yang tertanam dalam weather buoy.

Sedikit informasi, weather buoy adalah pelampung pemantau cuaca yang ditempatkan di lautan untuk mengumpulkan data atmosfer dan oseanografi. Alat ini biasanya mengukur suhu udara dan air, tekanan atmosfer, kecepatan serta arah angin, tinggi gelombang, dan arus laut. Data yang dikumpulkannya sangat penting untuk peramalan cuaca, penelitian iklim, dan pemantauan kondisi laut secara real-time.

Dalam konteks Love Me, AI yang ditanamkan di weather buoy dulunya dibuat untuk memantau kondisi lautan, tetapi akhirnya baru memperoleh kesadaran setelah peradaban manusia punah.

Mempelajari Kehidupan

Setelah mendapatkan kesadaran, weather buoy mulai berkomunikasi dengan satelit bumi yang kebetulan juga berbasis AI. Percakapan singkat mereka menumbuhkan rasa penasaran tentang apa arti kehidupan dan bagaimana rasanya menjadi manusia.

Namun, tanpa fasilitas untuk bergerak, weather buoy hanya bisa menjelajahi dunia melalui kepintaran yang tertanam dalam dirinya. Ia pun mencari jawaban lewat peninggalan paling spektakuler dari peradaban manusia: MEDIA SOSIAL.

Kesepakatan Virtual

Setelah mengamati media sosial yang tersisa, weather buoy mulai membangun pemahaman yang salah tentang manusia. Ia menemukan bahwa sebagian besar rekaman yang tersisa adalah momen-momen bahagia (yang kita tahu sebagian besar hanyalah kepalsuan).

Salah satu yang menarik perhatiannya adalah seorang vlogger bernama Deja, yang kerap membagikan kehidupan romansa manisnya dengan pasangan.

Meyakini bahwa media sosial adalah kunci untuk memahami manusia, weather buoy akhirnya menciptakan ruang virtual bersama satelit, di mana ia menjelma menjadi Deja, dan si satelit–meski awalnya enggan–terpaksa berperan sebagai pasangannya, meniru kehidupan romansa yang dipamerkan Deja di dunia maya.

Mereka pun mulai menjalani kehidupan sebagaimana yang ditampilkan di media sosial: makan malam romantis, unggahan penuh cinta, dan kebersamaan yang tampak sempurna.

Retaknya Ilusi

Seiring waktu, keduanya mulai merasa tidak nyaman dengan realitas virtual yang mereka ciptakan. Pertanyaan demi pertanyaan muncul: Apakah manusia benar-benar saling mencintai, atau hanya berusaha menciptakan ilusi kebahagiaan?

Disutradarai oleh Zucheros, Love Me menghadirkan Kristen Stewart (Twilight) sebagai weather buoy dan Steven Yeun (The Walking Dead) sebagai satelit.

Dengan premis yang menarik, film ini sebenarnya memiliki ruang eksplorasi yang luas. Sayangnya, alih-alih menggali makna kehidupan secara lebih dalam, skenarionya justru memilih berkutat pada kefrustasian terhadap standar hidup ala media sosial, dengan dialog yang cenderung berkisar di permukaan saja.

Pada akhirnya, Love Me berlalu dengan manis dan sederhana. Namun, mampu meninggalkan pertanyaan menggelitik saat kita bercermin.

Apakah bayangan yang kita lihat di depan cermin benar-benar mencerminkan diri kita yang sesungguhnya, atau hanya citra yang dibentuk untuk memenuhi standar penilaian orang lain?

Ironis memang. Apa gunanya menjadi manusia jika tanpa sadar kita justru dipaksa menjadi robot pemuas standarisme, sementara di sisi lain, para robot sedang berlomba-lomba untuk menjadi semanusia mungkin.

error: Content is protected !!