Lentera Takjub – Pagi itu Yesus kembali berhadapan dengan orang-orang Farisi dan beberapa ahli taurat dari Yerusalem. (7:1)
Mereka datang dari Yerusalem bukan untuk mendengar wahyu, tapi untuk menghakimi.
Mereka melihat beberapa murid-Nya makan dengan tangan yang belum dibasuh (7:2), dan langsung berbisik:
“Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat nenek moyang, tetapi makan dengan tangan najis?”
Sebab orang-orang Farisi dan orang Yahudi lainnya tidak akan makan kalau tidak basuh tangan terlebih dahulu, karena berpegang pada afdat istiadar nenek moyang mereka.
Dan kalau pulang dari pasar, mereka juga tidak akan makan, sebelum membersihkan diri.
Ada banyak warisan lain yang mereka pegang. Termasuk mencuci cawan, kendi, dan perkakas tembaga lainnya. (7:1–5)
Yesus menatap mereka, bukan dengan marah, tapi dengan sedih.
“Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu,” kata-Nya pelan.
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, tetapi hatinya jauh dari pada-Ku.” (7:6)
“Perintah Allah kamu abaikan, supaya dapat memelihara adat istiadat manusia.” (7:8)
Di mata mereka, kebersihan diukur dari cuci tangan. Tapi bagi Yesus, yang kotor justru tersembunyi di balik tangan yang tampak bersih.
Bukan yang Masuk, Tapi yang Keluar dari Hati
Ia memanggil orang banyak dan berkata dengan suara yang menembus kebisingan pasar.
“Dengarlah Aku, dan camkanlah ini. Tidak ada sesuatu pun dari luar manusia yang dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari dalam, itulah yang menajiskan.” (7:14–15)
Sesudah itu, sesampainya di rumah, murid-murid bertanya dengan ekspresi agak bingung soal ucapan di pasar tadi. Yesus pun menjelaskan dengan lembut.
“Segala yang masuk ke dalam perut, akhirnya keluar dan dibuang… tetapi yang keluar dari hati, itulah yang menajiskan.” (7:18–20)
Lalu Ia menyebut satu per satu…
“Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, iri hati, kesombongan, kebebalan…” (7:21–22)
“Semua itu menajiskan orang.” (7:23)
Perkataan Yesus membuat ruangan itu hening sejenak. Kata-kata-Nya seperti cermin, tak bisa dipatahkan, tapi bisa memulihkan.
Seorang Ibu yang Tidak Menyerah
Yesus meninggalkan Galilea dan pergi ke daerah Tirus (7:24).
Ia ingin diam sejenak, tapi kabar tentang-Nya lebih cepat daripada langkah kaki-Nya sendiri.
Di sana datang seorang perempuan Yunani, bangsa Siro-Fenesia yang tak lain bukan orang Yahudi, dan bukan bagian dari umat pilihan.
Namun hatinya terbakar oleh satu harapan, putrinya kerasukan roh jahat.
Ia tersungkur di depan kaki Yesus, suaranya bergetar,
“Tuhan, tolonglah anakku…” (7:25–26)
Yesus menatapnya, lalu berkata sesuatu yang terdengar keras,
“Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut roti yang disediakan bagi anak-anak itu dilempar kepada anjing.” (7:27)
Namun perempuan itu tersenyum tipis, matanya tetap memohon.
“Benar, Tuhan, tetapi anjing di bawah meja pun makan remah-remah yang jatuh dari anak-anak itu.” (7:28)
Keheningan turun. Lalu senyum Yesus pun muncul, lembut dan penuh kekaguman.
“Karena perkataanmu itu, pergilah; setan itu sudah keluar dari anakmu.” (7:29)
Dan ketika ia pulang, benar , anaknya telah bebas (7:30).
Iman kadang tidak lahir dari tahu banyak tentang Tuhan, tapi dari percaya bahwa kasih-Nya melampaui batas manusia.
Ia Membuka Telinga yang Tertutup
Dari Tirus, Yesus berjalan menuju ke wilayah Dekapolis (7:31).
Orang-orang datang membawa seorang tuli yang juga gagap, dan memohon supaya Ia menumpangkan tangan (7:32).
Yesus menariknya ke samping, jauh dari keramaian. Ia menaruh jari-Nya ke telinga orang itu, meludah, dan menyentuh lidahnya (7:33).
Lalu menengadah ke langit dan berdesah,
“Ephphatha,” katanya. (Artinya: Terbukalah!) (7:34)
Dan seketika itu juga, telinganya terbuka, lidahnya terlepas, dan ia bisa berbicara dengan jelas (7:35).
Orang-orang heran dan berkata satu kalimat yang akan bergema sepanjang sejarah… “Ia menjadikan segala-galanya baik!” (7:37)
Refleksi:
Markus 7 adalah kisah tentang hati, tentang orang Farisi yang bersih di luar tapi kotor di dalam, tentang seorang ibu asing yang hatinya murni, dan tentang seorang tuli yang akhirnya bisa mendengar bukan hanya suara, tapi kasih.
Dari tiga kisah ini, ada satu pesan bahwa Tuhan tidak mencari tangan yang bersih, tapi hati yang terbuka. Dan kasih-Nya menembus batas bangsa, budaya, bahkan dosa.
Maka jika engkau merasa tidak layak, atau hatimu penuh luka yang kau sembunyikan, ingatlah, yang Yesus lihat bukan tampilanmu, tapi kerinduanmu.