Lifetime Hadirkan 4 Film Rohani, Chrissy Metz Jadi Salah Satu Bintang Utama

Lentera Takjub – Di tengah gelombang hiburan yang makin penuh dengan kegelapan dan sensasi instan, Lifetime memilih jalur berbeda. Lewat deretan film terbarunya yang bertema iman dan penyembuhan, empat aktris kenamaan Hollywood yakni Chrissy Metz, Paula Patton, Alexa PenaVega, dan Kat Graham menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam, yakni kisah nyata tentang keteguhan, luka, dan penyertaan Tuhan.

Dalam sesi eksklusif roundtable, keempat perempuan ini berbagi pengalaman spiritual mereka masing-masing, bukan hanya sebagai karakter dalam film, tapi juga dalam hidup mereka sendiri.

Dan dari cerita mereka, jelas bahwa ini lebih dari sekadar akting. Ini adalah pelayanan. Ini adalah perjalanan iman.

Paula Patton dan Momen Menyerah yang Menyembuhkan

Bintang “Mission: Impossible – Ghost Protocol” ini tampil memukau dalam film “Finding Faith”, yang akan tayang 9 Agustus mendatang. Film ini menceritakan seorang perempuan yang terpuruk setelah kematian suaminya, dan perlahan membangun kembali hidupnya melalui dukungan keluarga, gereja, dan komunitas.

Bagi Patton, ini bukan hanya peran. Ini jawaban doa.

“Saya bangun pagi itu dan berdoa karena sudah terlalu lelah. Saya bilang ke Tuhan, ‘Aku serahkan semuanya. Aku jalan saja, percaya semuanya bakal baik.’”

Beberapa jam kemudian, ia menerima naskah Finding Faith. Ceritanya mencerminkan perjalanan pribadinya melawan kecanduan alkohol, dan bagaimana Tuhan membawanya kembali pada harapan.

“Saat saya syuting, saya sadar… ketika saya minum, saya sebenarnya sedang tidak percaya pada Tuhan. Peran ini membuat saya berdamai dengan diri sendiri.”

Chrissy Metz: Dari ‘This Is Us’ ke Api Iman

Dikenal luas sebagai Kate Pearson dalam serial emosional This Is Us, Chrissy Metz kini membintangi “Faith in the Flames: The Nicole Jolly Story” yang tayang 19 Juli. Ia memerankan Nichole Jolly, seorang petugas medis yang mempertaruhkan nyawa menyelamatkan orang lain saat tragedi kebakaran Camp Fire 2018 di California.

“Surrender, menyerah pada kehendak Tuhan, itu jadi benang merahnya. Dan saya pribadi juga belajar banyak dari situ. Saya orangnya cemas. Tapi kisah ini mengingatkan bahwa Tuhan takkan beri lebih dari yang kita bisa tanggung.”

Kisah ini tak hanya tentang tragedi, tapi juga tentang keberanian yang lahir dari iman, dan kekuatan spiritual yang muncul saat segalanya terasa habis.

Alexa PenaVega: Dari “Spy Kids” ke Pelarian Penuh Doa

PenaVega, yang kini aktif bersama suaminya dalam proyek-proyek rohani, membintangi “Before Your Father Finds Us” (tayang 26 Juli), kisah menegangkan tentang ibu yang melarikan diri bersama putrinya dari mantan suami yang berbahaya.

“Saya sedang berdoa, meminta tantangan baru. Dan proyek ini muncul. Tuhan tahu betul apa yang saya butuhkan.”

Tapi di balik layar, PenaVega juga sempat mengalami kehilangan besar, yakni saat anaknya meninggal saat lahir. “Saat itu, Tuhan benar-benar hancurkan ego saya. Saya merasa sangat kecil. Tapi justru di titik itu saya merasa paling dekat dengan Dia.”

Kat Graham: Dari Vampir ke Pengampunan

Biasa dikenal sebagai penyihir Bonnie Bennett dalam The Vampire Diaries, kini Kat Graham menunjukkan sisi barunya lewat “If I Run” (tayang 2 Agustus), adaptasi novel rohani karya Terri Blackstock. Ia memerankan Casey Cox, perempuan yang difitnah atas pembunuhan dan harus melarikan diri sambil mencari kebenaran dan memegang teguh imannya.

“Saat membaca naskahnya, saya merasa melakukan hal yang benar. Karakternya awalnya ditulis untuk perempuan kulit putih. Tapi Lifetime percaya pada saya. Itu luar biasa.”

Baginya, ini bukan sekadar akting, tetapi kesempatan untuk menyalurkan sisi spiritualnya dan berbagi cerita yang menyembuhkan.

Ketika Peran dan Iman Menyatu

Meski berlatar belakang dan cerita berbeda, satu hal yang mengikat keempat aktris ini adalah “surrender,” atau menyerahkan kendali pada Tuhan. Dalam era yang penuh ketidakpastian, cerita mereka jadi pengingat bahwa iman masih relevan. Bahkan, justru lebih dibutuhkan dari sebelumnya.

“Banyak orang yang dulunya tidak  religius sekarang mulai berdoa,” kata Metz. “Kita semua haus akan koneksi terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri kita.”

Terkait proyek film ini, Lifetime pun dipuji karena berani menayangkan kisah-kisah positif, yang seringkali diabaikan oleh arus utama.

“Film-film ini adalah jawaban,” ujar Graham. “Di tengah gelapnya dunia, kita butuh cahaya. Dan cahaya itu bisa hadir lewat cerita. Karena terkadang, ketika cerita menyentuh jiwa, kita tidak hanya menonton film, tetapi juga dipulihkan.”

error: Content is protected !!