Lentera Takjub, Gaza – Ketegangan di Jalur Gaza kembali meningkat. Israel dikabarkan tengah mempersiapkan ofensif besar untuk merebut Gaza berbekal puluhan ribu pasukan cadangan. Operasi militer itu diperkirakan bisa dimulai secepatnya pekan depan.
Di tengah situasi tersebut, Gereja Katolik dan Ortodoks di Yerusalem menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka menilai perintah evakuasi warga sipil ke wilayah selatan Gaza sama saja dengan vonis mati, mengingat rakyat Gaza sudah menderita kelaparan dan kekurangan kebutuhan dasar.
Saat ini, Gereja Santo Porphyrius (Ortodoks Timur) dan Gereja Keluarga Kudus (Katolik) menjadi tempat perlindungan bagi ratusan umat Kristen yang terjebak di tengah konflik. Banyak dari mereka adalah perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas yang kini berada dalam perawatan para suster Misionaris Cinta Kasih. Kondisi mereka sangat rentan, lemah, dan kurang gizi.
Uskup Nicholas Hudson, Ketua Departemen Urusan Internasional Konferensi Waligereja Inggris dan Wales, menyerukan umat Katolik di seluruh dunia untuk mendoakan mereka yang bertahan di Gaza, khususnya para imam dan biarawati yang memilih tetap tinggal demi melayani.
“Dalam situasi pemaksaan pengungsian, mereka memilih bertahan untuk tetap merawat yang paling lemah, termasuk penyandang disabilitas dan mereka yang mencari perlindungan di kompleks gereja,” ujar Uskup Hudson seperti dikutip dari Christian Today, Minggu (31/8/2025).
Ia menaruh perhatian khusus pada Pastor Gabriel Romanelli, gembala Gereja Keluarga Kudus. Pastor Romanelli dikenal dekat dengan Paus Fransiskus di masa-masa terakhir hidupnya. Hampir setiap hari, Paus menelepon Pastor Romanelli untuk memberikan dukungan.
Keadaan Kian Mencekam di Gereja Gaza
Baru-baru ini, Pastor Romanelli terluka akibat serangan artileri Israel yang menghantam kompleks gereja, menewaskan tiga orang dan melukai sepuluh lainnya.
“Pastor Romanelli terus berjuang untuk melindungi mereka yang berlindung di paroki, terutama anak-anak yang kini pasrah menghadapi kengerian di sekitarnya. Ia berdoa bersama mereka, berusaha mengalihkan perhatian mereka dari kekerasan, serta menguatkan mereka dengan sakramen dan penghiburan iman,” kata Uskup Hudson.
Ia juga menambahkan, “Saya bergabung dengan suara yang mengecam tindakan pemerintah Israel. Tidak ada pembenaran moral bagi pengungsian massal yang dipaksakan secara sengaja.”
Uskup Hudson kemudian menutup seruannya dengan ajakan doa agar perang segera berakhir, serta hadirnya keadilan bagi rakyat Palestina maupun Israel.