Lentera Takjub – Apa yang lebih penting pada hari Sabat, menjaga aturan atau menolong orang? Pertanyaan itu bukan sekadar wacana, tapi ujian nyata di sebuah rumah ibadat di Kapernaum, ketika Yesus berhadapan dengan seorang yang mati sebelah tangannya.
1–2. “Pada suatu kali Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.”
Yesus melihat bukan hanya tangan yang kering, tapi juga hati yang keras. Ia berdiri di tengah, lalu memanggil orang itu maju.
3–4. “Mari, berdirilah di tengah!” kata-Nya. Dan kepada mereka Ia berkata, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?”
Hening. Tak ada jawaban.
5. “Ia berdukacita karena kedegilan hati mereka, lalu berkata kepada orang itu, ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Dan orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya.”
Kemarahan pun pecah.
6. “Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.”
Kerumunan semakin besar. Orang-orang dari Galilea, Yudea, Yerusalem, sampai Idumea berbondong-bondong datang. Dari seberang Yordan, dari Tirus dan Sidon, mereka berdesakan hanya untuk melihat dan menyentuh-Nya.
7–8. “Karena banyak orang yang mendengar segala sesuatu yang dilakukannya, datanglah mereka kepada-Nya.”
Yesus meminta perahu kecil disiapkan, supaya Ia tidak terdesak oleh kerumunan. Orang sakit berebut menjamah-Nya, dan roh-roh jahat pun berteriak ketika melihat Dia. (9-10)
11. “Engkaulah Anak Allah!”
Tapi Ia melarang mereka berbicara.
Kemudian Yesus naik ke sebuah bukit, dan dari antara pengikut-Nya, Ia memilih dua belas orang untuk menyertai-Nya. (12-13)
14–15. “Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia, dan untuk diutus-Nya memberitakan kabar baik dan diberi kuasa untuk mengusir setan.”
Ada Simon, yang diberi nama Petrus; Yakobus dan Yohanes anak Zebedeus, yang dijuluki-Nya “Boanerges,” artinya anak-anak guruh. Ada Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang kelak mengkhianati-Nya.
Rumah tempat Ia tinggal begitu penuh hingga orang-orang berkata, “Ia tidak waras lagi.” Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem menuduh-Nya lebih keras, (16-21)
22.”Ia kerasukan Beelzebul. Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.”
Yesus memanggil mereka dan menjawab dengan perumpamaan,
23–26. “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Jika suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan.”
Ia menegaskan, tuduhan itu tidak masuk akal. Tidak mungkin kuasa gelap melawan dirinya sendiri. Lalu Ia berkata, (27)
28–29. “Segala dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, tetapi apabila seseorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya.”
Di luar, ibu dan saudara-saudara-Nya datang, ingin menemuinya. Mereka berdiri di pinggir kerumunan, menyuruh orang memanggil-Nya. (30-31)
32. “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”
Yesus menatap orang-orang di sekeliling-Nya.
33–35. “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku? Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Refleksi:
Yesus tidak hanya menyembuhkan tangan yang mati rasa, Ia juga menantang hati yang membatu. Ia tidak mencari keramaian, tapi orang-orang yang rela meninggalkan segalanya untuk berjalan bersama-Nya. Ia tidak gentar dituduh gila atau kerasukan, karena kuasa-Nya nyata dan tak terbantahkan.
Dan Ia mendefinisikan ulang keluarga… bukan sekadar darah dan nama, tapi ketaatan pada kehendak Allah.
Mungkin hari ini kamu merasa seperti orang di rumah ibadat itu, terjebak dalam aturan, dalam pandangan orang lain, dalam hati yang beku….Atau seperti orang banyak yang hanya ingin menjamah-Nya sekilas.
Tapi Yesus mengundang kita lebih dalam, menjadi keluarga-Nya. Bukan sebagai orang luar, tapi bagian dari rumah-Nya.
Catatan: Seluruh ayat yang digunakan dalam artikel ini diambil dari Markus 3, berdasarkan versi World English Bible (WEB) dan King James Version (KJV) yang merupakan teks Alkitab domain publik (public domain). Versi ini bebas digunakan untuk tujuan pengajaran dan refleksi pribadi, dan telah disusun ulang secara naratif tanpa mengubah makna asli.