Survei CAP: Ribuan Orangtua di Inggris Terjerat Utang demi Makan Anak

Lentera Takjub – Di berbagai sudut Inggris, ribuan orangtua sedang bergulat dengan kenyataan pahit. Biaya hidup yang kian tinggi membuat mereka harus berutang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak mereka.

Sebuah penelitian terbaru dari lembaga amal kristen, Christians Against Poverty (CAP) mengungkap betapa beratnya beban keluarga berpenghasilan rendah.

Hasil survei bahkan memperlihatkan hampir 12% orangtua memilih tidak makan siang agar anak mereka tetap punya makanan di meja.

Bagi banyak keluarga, memiliki sedikit uang kini seperti diberi teka-teki tanpa jawaban. Memilih antara membayar tagihan, membeli bahan makanan atau melunasi cicilan utang.

Makanan Sehat Jadi Kemewahan

Data terbaru CAP menyebutkan, enam dari sepuluh orangtua (59%) terpaksa berutang hanya untuk belanja kebutuhan pokok. Bahkan, tujuh dari sepuluh (72%)  harus meninggalkan makanan sehat karena harga yang tidak terjangkau.

Kondisi ini semakin menekan keluarga dengan anak kecil. Lebih dari sepertiga (35%) orangtua dengan anak balita kini terjebak dalam utang yang tak bisa mereka bayar kembali.

Menurut Juliette Flach, Manajer Kebijakan dan Urusan Publik CAP, semua tekanan itu akan bertambah ketika musim panas datang.

“Harga tinggi, kebutuhan anak-anak, dan biaya ekstra selama libur sekolah, membuat banyak orangtua merasa terhimpit.” ujarnya seperti dikutip dari Christian Today, belum lama ini.

“Kehilangan pekerjaan, perceraian atau sakit bisa dengan cepat mengubah kondisi ekonomi keluarga. Bagi orangtua tunggal, tekanannya jauh lebih besar.”

Faktanya, satu dari empat (28%) klien baru CAP tahun lalu adalah orangtua tunggal, dan mayoritas hidup dalam ketakutan akan masa depan.

Kisah Nyata: Nicole dan Dua Anaknya

Nicole, seorang ibu dengan dua anak, tahu persis bagaimana rasanya hidup dalam lilitan utang.

Setelah hubungannya kandas dan ibunya meninggal karena kanker, Nicole harus menghadapi kenyataan itu sendirian.

“Hidup dalam utang itu menyiksa. Saya sering mengalami serangan panik hanya karena pintu diketuk. Enam minggu liburan sekolah terasa seperti enam bulan. Saya pakai sepatu bolong agar anak-anak punya cukup. Saya melewatkan makan, hanya mencicipi sisa mereka,” kenangnya.

Bagi Nicole, makanan adalah biaya terbesar, ditambah kebutuhan baju anak yang terus tumbuh. Itu kenapa Ia sering mencari di toko amal, bahkan menerima pakaian sumbangan dari jemaat gereja.

Beruntung, titik balik datang ketika CAP masuk dalam hidupnya.

“Saat menerima telepon bahwa saya bebas utang, saya jatuh ke lantai. Rasanya luar biasa. Sejak itu saya tak lagi minum obat kecemasan. Saya bahkan sudah mulai menabung. Belajar mengelola uang mengubah cara pandang saya, memberi kembali rasa percaya diri dan kemandirian,” ujarnya penuh syukur.

Seruan untuk Pemerintah

Melihat kenyataan yang ada, CAP mendesak pemerintah Inggris mengambil langkah berani. Salah satu yang mereka soroti adalah kebijakan batas tunjangan dua anak, yang kini memengaruhi lebih dari 1,6 juta anak di seluruh negeri.

“Batasan itu justru menjebak keluarga miskin dalam utang. Sistem jaminan sosial seharusnya melindungi dari kemiskinan, bukan membuat orang tidak mampu membeli kebutuhan pokok.” Tegas Flach.

Dengan tegas, CAP menyerukan agar pemerintah berkomitmen penuh memerangi kemiskinan anak. Karena di balik setiap angka, ada orangtua yang berjuang, dan ada anak-anak yang hanya ingin tumbuh dengan layak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!