Lentera Takjub, Jakarta – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kompleksitas tantangan zaman, para pendeta Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) diingatkan akan panggilan penting mereka, yakni menjadi agen transformasi bangsa lewat pembentukan karakter jemaat.
Panggilan ini ditegaskan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama RI. Pesan utamanya bahwa pendeta bukan sekadar pengkhotbah, melainkan teladan nyata yang membentuk jemaat agar menjadi terang dan garam di tengah masyarakat.
“Sebagai pendeta GPIB, mari kita menjawab panggilan Tuhan untuk membangun karakter jemaat yang tidak hanya berdampak di dalam gereja, tetapi juga di tengah masyarakat dan bangsa. Inilah yang dimaksud Yesus sebagai terang dan garam dunia,” ujar Dirjen Bimas Kristen, Jeane Marie Tulung, saat menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan Pembekalan Pendeta GPIB Tingkat Pratama dan Madya, Jakarta, Kamis, (28/08/2025).
Karakter Kristen sebagai fondasi
Pendeta GPIB memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan karakter Kristus, bukan hanya dalam lingkup gereja, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Pertanyaannya sederhana, bagaimana mungkin seorang pendeta membentuk karakter jemaat jika karakternya sendiri belum beres? Karena itu, transformasi harus dimulai dari diri sang gembala terlebih dahulu.
Dirjen Bimas mengingatkan GPIB agar terus bertransformasi melalui pembaruan budi sesuai firman Tuhan, dan mendukung Gereja menjadi suara moral bangsa. Termasuk menegakkan kasih, kebenaran dan keadilan, serta membina generasi muda kristiani agar kuat menghadapi arus zaman.
“Gereja melalui para pendeta harus menjadi agen pembentuk karakter Kristus. Jika tidak, dunia yang akan mengambil alih tugas itu. Pilihan ada di tangan kita,” pungkas Dirjen.