Lentera Takjub – Bayangkan sebuah desa kecil di Galilea yang mulai bergemuruh. Bukan oleh badai, tapi oleh bisik-bisik. “Ada yang bisa menyembuhkan… katanya mengusir roh jahat juga…” Dari rumah ke rumah, nama-Nya tersebar, tak terbendung.
Kala itu, Yesus baru saja menyembuhkan orang yang kerasukan di rumah ibadat. Tapi ini baru permulaan. Hari itu, setelah keluar dari rumah ibadat, Ia langsung menuju rumah Simon dan Andreas.
29. Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.
30. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.
31. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya, Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.
Tak ada upacara. Tak ada perintah panjang. Hanya tangan yang menjangkau dan kehangatan yang menggantikan demam. Ibu mertua yang tergeletak kini bangkit dan melayani. Bukankah itu tujuan dari kesembuhan? Bukan hanya sembuh… tapi dipulihkan untuk kembali mengasihi.
Sore harinya, kabar itu meledak.
32. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan.
33. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.
34. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Bayangkan halaman rumah Simon. Penuh. Sesak. Udara malam bercampur dengan harapan. Ada yang lumpuh, ada yang tuli, ada yang hancur oleh roh jahat. Tapi malam itu, tak ada yang ditolak. Yesus menyentuh luka mereka satu per satu. Dan ketika banyak dari kita merasa tak layak, Ia tetap membuka tangan.
Namun Yesus tahu kapan harus menepi.
35. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
Saat semua orang mencari-Nya, Yesus justru mencari Bapa-Nya. Ia tak haus popularitas, Ia haus keintiman. Dan dari relasi itulah, kekuatan-Nya mengalir.
36. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;
37. dan ketika menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.”
38. Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat yang lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan kabar baik, karena untuk itu Aku telah datang.”
Yesus tidak hanya datang untuk menyembuhkan tubuh. Ia datang membawa kabar baik. Dan misi itu terus bergulir.
39. Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan kabar baik dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
Tiba-tiba, muncullah satu sosok yang membuat semua orang minggir: seorang kusta.
40. Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus dan sambil berlutut di hadapan-Nya, ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”
Orang kusta adalah orang buangan. Mereka tidak boleh disentuh, tidak boleh didekati, tidak boleh dilihat dengan belas kasih. Tapi Yesus…
41. Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”
Sentuhan itu adalah revolusi. Ia tidak menjauhi orang yang najis. Ia justru menjamah, dan justru kekudusan-Nya menular.
42. Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.
Tapi Yesus tidak membiarkan mukjizat menjadi tontonan.
43. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:
44. “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Namun siapa bisa menyimpan kabar bahagia?
45. Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.
Refleksi
Yesus tidak pernah terlalu sibuk untuk menjamahmu. Bahkan ketika orang-orang menyingkir karena sakitmu, Ia tetap mendekat. Dan ketika dunia menyuruhmu diam, Ia justru berkata: “Aku mau. Jadilah engkau tahir.”
Biarkan Yesus menyembuhkanmu. Bukan hanya luka tubuhmu, tapi juga hatimu yang lelah, pikiranmu yang penuh beban, dan masa lalu yang belum sembuh. Ia masih menjamah hari ini.
Catatan: Seluruh ayat yang digunakan dalam artikel ini diambil dari Markus 1:1–13, berdasarkan versi World English Bible (WEB) dan King James Version (KJV) yang merupakan teks Alkitab domain publik (public domain). Versi ini bebas digunakan untuk tujuan pengajaran dan refleksi pribadi, dan telah disusun ulang secara naratif tanpa mengubah makna asli.