Lentera Takjub – Bagi yang pernah berjalan di kawasan Malioboro, Yogyakarta, mungkin sempat melihat Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Marga Mulya. Sebuah bangunan gereja tua yang masih terawat indah, dengan letak yang tak jauh dari titik nol kilometer.
Gereja ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga merupakan salah satu saksi dari sejarah panjang pendudukan kolonial Belanda di Indonesia.
Sejarah GPIB Marga Mulya
GPIB Marga Mulya adalah salah satu gereja bersejarah di Yogyakarta. Bangunannya dirancang oleh arsitek Belanda, Ir. P.A. van Holm, dan dikerjakan pada masa Residen C.P. Brest van Kempen (1857–1863). Proses pembangunannya diawasi langsung oleh seorang teknisi B.O.W., J.G.H. van Valette, hingga akhirnya diresmikan pada 11 Oktober 1857 oleh Pendeta Ds. C.G.S. Begemann.
Gereja ini berdiri di atas lahan sekitar 745 meter persegi, dengan bangunan seluas 415 meter persegi. Gaya arsitekturnya khas Indis, yaitu perpaduan gaya Eropa dengan sentuhan tropis Nusantara.
Salah satu ciri menariknya bisa dilihat di bagian atap selatan yang menggunakan seng dengan hiasan lucarne. Ada juga jendela-jendela kecil yang bukan hanya mempercantik bangunan, tapi juga berfungsi sebagai ventilasi alami.
Dulu, gereja ini dikenal dengan nama De Protestanse Kerk in Westelijk Indonesia, dan digunakan sebagai tempat ibadah bagi orang-orang Eropa yang tinggal di Yogyakarta.
Bangunannya sendiri terdiri dari tiga bagian, yaitu ruang depan (porch), ruang utama (nave), dan pastori. Pintu utamanya berbentuk kupu tarung dari kayu jati, lengkap dengan hiasan lengkung di atasnya.
Menariknya lagi, di ruang utama sampai sekarang masih ada tulisan berbahasa Belanda die in mij gelooft heeft eeuwige leven, yang artinya “Barangsiapa percaya kepada-Ku memperoleh hidup yang kekal.”

Pada 1867, gempa besar sempat merusak parah bangunan ini. Namun berkat bantuan dana dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII, gereja dibangun kembali dan berdiri kokoh hingga sekarang.
Karena nilai sejarahnya, GPIB Marga Mulya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM25/PW.007/MKP/2007.

Selain menjadi destinasi sejarah, hingga hari ini GPIB Marga Mulya tetap aktif melayani jemaat dengan jadwal ibadah Minggu yang rutin dilaksanakan pada pukul 06.00, 09.00 dan 17.00 WIB.
Setiap kebaktian diisi pujian, doa, firman Tuhan serta suasana persekutuan yang hangat.
Pada akhirnya, GPIB Marga Mulya tidak hanya menjadi jejak perjalanan iman umat Kristen sejak abad ke-19, tetapi juga tetap berdiri sebagai rumah doa di tengah hiruk pikuk Malioboro.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Yogyakarta, gereja ini bisa menjadi tempat berdoa sekaligus belajar sejarah.