Lentera Takjub — Meskipun kesepakatan damai Israel–Hamas telah ditandatangani pada 13 Oktober 2025, kehidupan di Jalur Gaza masih jauh dari kata aman.
Kunjungan Presiden Donald Trump ke Israel dan Mesir yang bertepatan dengan penandatanganan kesepakatan itu sempat menyalakan harapan baru. Namun, menurut laporan dari Joseph Hazboun, Direktur Regional Catholic Near East Welfare Association (CNEWA) – Pontifical Mission di Yerusalem, realitas di lapangan tetap suram.
Bahkan, mengutip dari OSV News, di tengah reruntuhan bangunan dan kelangkaan bahan pangan, komunitas Kristen Gaza kini berada di ujung kehancuran, mempertahankan iman di tengah krisis kemanusiaan yang kian memburuk.
“Bantuan yang dijanjikan seperti dicekik. Truk-truk makanan dibatasi dan tidak pernah mencapai jumlah yang dijanjikan,” kata Hazboun dalam pembaruan situasi tertanggal 28 Oktober.
Gereja Jadi Tempat Berlindung Terakhir
Dengan sebagian besar wilayah Gaza hancur dan sistem kesehatan lumpuh total, umat Kristen kini hidup dalam ketakutan dan kelaparan. Dari sekitar 596 orang atau 207 keluarga yang tersisa di Gaza, 214 orang berlindung di Gereja Ortodoks St. Porphyrius, sementara 382 lainnya mencari perlindungan di Gereja Keluarga Kudus (Holy Family Church).
“Kedua gereja ini menampung semua yang kehilangan rumah. Mereka hidup dari bantuan terbatas, dan perlindungan ini sudah di ambang batas kemampuan,” tutur Hazboun.
Kehidupan di gereja-gereja ini tidak mudah. Banyak keluarga tidur di lantai dingin, berbagi makanan seadanya, dan menggantungkan harapan pada doa. Namun, Hazboun menegaskan bahwa keberadaan dua gereja ini adalah simbol kasih yang masih bertahan di tengah kegelapan Gaza.
Meski gencatan senjata masih berlaku, situasi Gaza tetap rawan. Wilayah itu kini terbelah dua, dengan sebagian besar area berada di bawah kontrol penuh Israel. Hanya sekitar setengah dari Jalur Gaza yang dapat diakses oleh warganya.
“Mereka yang mencoba kembali ke rumah menemukan kehancuran total… tak ada air, listrik, rumah sakit, sekolah, atau rumah untuk kembali,” ungkap Hazboun.
Antara 11 dan 22 Oktober, lebih dari 1.000 truk bantuan berhasil menyalurkan makanan, obat-obatan, dan perlengkapan dasar. Namun banyak kiriman yang tertahan atau ditolak dengan alasan administratif.
Meski demikian, ada sedikit kemajuan, lebih dari satu juta makanan hangat kini dibagikan setiap hari, dan angka malnutrisi anak turun dari 14% menjadi 10%.
Anak-Anak Tanpa Sekolah, Tanpa Masa Depan
Bagi anak-anak Gaza, dua tahun terakhir berarti kehilangan masa kecil dan masa depan. Sekolah-sekolah yang hancur kini menjadi tempat pengungsian. Beberapa organisasi mencoba membuka kelas darurat di tenda-tenda, sekaligus memberikan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang mengalami trauma perang.
“Kami berusaha menciptakan rutinitas baru agar mereka tetap belajar dan tidak kehilangan semangat hidup,” ujar Hazboun.
Selain itu, pusat aman bagi perempuan dan anak-anak kini dibuka di Kompleks Medis Nasser, untuk memberikan perlindungan dari kekerasan serta layanan konseling bagi ribuan perempuan dan anak perempuan korban trauma.
Musim Dingin yang Mendekat, Harapan yang Menipis
Dengan datangnya musim dingin, penderitaan semakin terasa. Hingga akhir Oktober, lebih dari 29.000 selimut dan 1.200 tenda telah dibagikan untuk hampir 1 juta pengungsi di 245 titik penampungan.
Namun, kebutuhan tetap jauh dari cukup. Banyak keluarga yang masih kekurangan air bersih, makanan, dan kebutuhan dasar seperti popok dan obat-obatan.
“Gaza membutuhkan segalanya, dari air minum hingga rasa aman,” kata Hazboun. “Kami bertahan sejauh yang diizinkan situasi.”
Di tengah segala kekurangan, Hazboun menegaskan pentingnya solidaritas dan doa dari dunia luar.
“Mereka perlu tahu bahwa kita tidak meninggalkan mereka. Kita bersama mereka dalam penderitaan ini,” ujarnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa masa depan masih belum jelas. Belum ada jaminan bahwa rekonstruksi besar-besaran akan diizinkan oleh pihak berwenang.
“Kami hanya bisa menunggu dan berharap agar kesepakatan ini sungguh membuka jalan bagi pemulihan yang nyata, bukan sekadar jeda sebelum penderitaan berikutnya,” tutupnya.