Lentera Takjub – Bagi umat Kristen, keberadaan Yesus adalah dasar iman. Namun, menariknya, sejumlah dokumen sejarah non-Kristen dari abad pertama dan kedua turut mencatat keberadaan-Nya. Mari kita kupas sumber-sumber sejarah yang memperkuat eksistensi Yesus dari perspektif di luar Alkitab.
Flavius Yosefus (37–100 M) – Sejarawan Yahudi
Dalam bukunya Antiquities of the Jews (ditulis sekitar tahun 93 M), Yosefus menyebut seorang bernama Yesus:
“Pada waktu itu muncul Yesus, orang bijak, jika memang boleh menyebutnya manusia. Ia adalah pelaku perbuatan-perbuatan luar biasa, guru bagi orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Ia menarik banyak orang, baik orang Yahudi maupun Yunani. Ketika Pilatus, atas desakan para pemimpin kita, menjatuhkan hukuman salib kepadanya, mereka yang mencintainya tidak meninggalkan-Nya. Dan sampai saat ini, kelompok yang dinamakan menurut-Nya (Kristiani) masih ada.” (Antiquities 18.3.3)
Meskipun ada perdebatan apakah seluruh kutipan ini asli atau telah disisipkan oleh penulis Kristen, banyak sarjana sepakat bahwa inti penyebutan Yesus dalam karya Yosefus adalah valid.
Tacitus (56–120 M) – Sejarawan Romawi
Dalam Annals (sekitar tahun 116 M), Tacitus menulis tentang kebakaran besar di Roma yang terjadi pada 64 M. Ia menyebutkan bahwa Kaisar Nero menyalahkan komunitas Kristen, yang pengikutnya berasal dari Kristus (Christus):
“Kristus, pendiri nama itu, dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus, seorang procurator Yudea pada masa pemerintahan Tiberius.” (Annals 15.44)
Ini adalah salah satu catatan Romawi paling tegas yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar dihukum mati di bawah otoritas Pilatus.
Pliny the Younger (61–113 M) – Gubernur Romawi
Dalam suratnya kepada Kaisar Trajan (sekitar tahun 112 M), Pliny menyebut para Kristen sebagai orang yang:
“… biasa berkumpul sebelum fajar, bernyanyi kepada Kristus seakan-akan kepada Tuhan, dan bersumpah tidak melakukan kejahatan.”
Surat ini menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya dikenal sebagai tokoh sejarah, tapi juga telah disembah oleh para pengikut-Nya hanya beberapa dekade setelah kematian-Nya.
Talmud Babilonia (sekitar abad ke-3 M)
Meskipun tidak bersahabat dengan Yesus, Talmud tetap mencatat keberadaan-Nya. Dalam Sanhedrin 43a tertulis:
“Pada malam Paskah Yeshu digantung (salib). Selama 40 hari sebelum eksekusi, seorang penyiar berseru bahwa Yeshu akan dilempari batu karena mempraktekkan sihir dan menyesatkan Israel.”
Pernyataan ini, meski sinis dan tidak simpatik, justru memperkuat keberadaan Yesus secara historis dari sudut pandang para penentang-Nya.
Bukti Arkeologis dan Tradisi Lisan
Meski tidak ada artefak langsung dari tubuh atau tulisan tangan Yesus, komunitas pengikut Kristus yang berkembang pesat sejak abad pertama adalah bukti sosial yang kuat. Prasasti-prasasti, rumah ibadah awal (seperti rumah di Dura-Europos), dan simbol-simbol Kristen awal menunjukkan penyembahan kepada Yesus sangat cepat tersebar.
Perlu dimengerti, sumber-sumber di atas tidak membahas keilahian Yesus, karena mereka bukan tulisan iman, melainkan catatan sejarah. Namun, justru karena ditulis oleh pihak luar, pengakuan mereka akan keberadaan dan pengaruh Yesus menjadi semakin kuat dan tak terbantahkan secara historis.
Yang pasti, Yesus dari Nazaret adalah tokoh sejarah nyata yang dicatat oleh berbagai sumber non-Kristen. Keberadaan-Nya tak hanya hidup dalam iman, tetapi juga dalam sejarah manusia. Ini menjadi pintu masuk penting—bahwa Yesus sungguh hadir, berkarya, dan meninggalkan jejak abadi yang tak bisa dihapuskan oleh waktu.
Referensi dan Sumber:
- Josephus, Antiquities of the Jews, Book 18, Chapter 3
- Tacitus, Annals, Book 15, Chapter 44
- Pliny the Younger, Letters, Book 10, Letter 96
- Talmud Babilonia, Sanhedrin 43a
- Craig A. Evans, Jesus and His World
-
Bart D. Ehrman, Did Jesus Exist? The Historical Argument for Jesus of Nazareth