Lentera Takjub – Angin senja menyapu debu di jalanan ketika Yesus dan murid-murid-Nya melangkah masuk ke Galilea. Langit berwarna oranye kemerahan, dan bayang-bayang panjang menyelimuti tanah yang seolah ikut menanti-Nya datang.
Rupanya, kabar Yesus akan ke Galilea telah lebih dulu sampai, bergema di antara para nelayan, pedagang, dan rakyat biasa yang mendengar bisikan tentang seorang pria dari Nazaret yang bisa menyembuhkan, yang bisa melakukan mukjizat.
Ketika Yesus berada di Kapernaum–sebuah kota di tepi laut Galilea, seorang pegawai istana datang tergesa-gesa dengan nafas tersengal dan mata yang penuh ketakutan.
Pegawai Istana itu, Anak laki-lakinya sedang sekarat. Tidak ada tabib yang bisa menolong, dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan. Harapan terakhirnya adalah pria ini—Yesus.
Lututnya gemetar, ia bersimpuh dan memohon, “Tuan, datanglah sebelum anakku mati!”
Orang-orang menahan napas. Ini adalah permintaan seorang pria yang selama ini berada dalam lingkaran kekuasaan. Namun di hadapan Yesus, ia hanya seorang ayah yang kehilangan harapan.
Yesus menatapnya dengan dalam. Di mata-Nya, ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar belas kasih—ada kuasa yang tak tergoyahkan.
Dengan suara yang tenang, tetapi penuh otoritas, Ia berkata:
“Pergilah, anakmu hidup.”
Hening. Dunia terasa membeku sejenak. Tak ada gerakan tangan, tak ada mantra, tak ada perjalanan ke rumah anak itu. Hanya kata-kata. Kata-kata yang membawa kehidupan.
Pegawai itu menatap Yesus, hatinya berperang antara ragu dan harapan. Namun, ada sesuatu dalam nada suara-Nya yang membuatnya percaya. Tanpa berkata-kata lagi, ia berbalik dan berjalan pulang.
Di tengah perjalanan, ia melihat bayangan orang-orang berlari ke arahnya. Hambanya datang dengan wajah penuh kegembiraan.
“Tuan! Anakmu sudah sembuh!”
Dadanya berdegup kencang. “Kapan dia sembuh?” tanyanya.
“Kemarin, tepat jam ketujuh.”
Dunia seakan berhenti berputar. Jam ketujuh. Saat itulah Yesus berbicara kepadanya.
Ia menutup matanya sejenak, merasakan gelombang keajaiban yang baru saja terjadi. Ini bukan kebetulan. Ini bukan keajaiban biasa. Ini adalah kuasa Tuhan yang hidup, berbicara hanya dengan satu kalimat dan kematian pun mundur.
Tangannya mengepal di dadanya, air mata jatuh ke tanah. Ia percaya. Dan bukan hanya dia—seluruh keluarganya percaya kepada Yesus hari itu.
Perjalanan Yesus tidak selalu disambut dengan iman
Ketika Yesus melangkah ke kota asal-Nya, Nazareth, suasananya berbeda dengan di Galilea. Contohnya saat dirinya berada di sinagoga, berdiri dan membaca dari gulungan Nabi Yesaya:
“Roh Tuhan ada pada-Ku, sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada yang tertawan, dan penglihatan bagi yang buta…”
Suara-Nya bergema di seluruh ruangan, menembus hati yang mendengar. Ketika menutup gulungan itu Yesus pun berkata:
“Hari ini, genaplah ayat ini saat kamu mendengarnya.”
Orang-orang membatu. Lalu wajah mereka berubah. Dari keterkejutan menjadi kemarahan.
“Bukankah ini anak tukang kayu? Bukankah kita mengenal keluarganya? Siapa Dia sehingga berani berkata seperti ini?”
Murka mereka membesar. Kata-kata Yesus menantang mereka, mengguncang kepercayaan mereka yang telah lama kaku.
Dalam amarah, mereka menyeret-Nya ke puncak tebing, berniat menjatuhkan-Nya.
Tetapi Yesus tidak berteriak, tidak berlari. Dengan ketenangan yang luar biasa, Ia berbalik dan berjalan melewati mereka.
Kekuatan Iman
Pada akhirnya, mereka yang menerima-Nya mendapat hidup, dan mereka yang menolak-Nya tetap terikat pada kegelapan.
Yesus terus melangkah, karena terang-Nya bukan hanya untuk satu kota—tetapi untuk seluruh dunia.
*Cerita ini berdasarkan kisah yang terdapat pada injil Yohanes 4:43-54 dan Lukas 4:16-30 dengan tambahan konteks sejarah dan budaya yang relevan.