Lentera Takjub – Penemuan arkeologis terbaru di Turki menyingkap sisa-sisa kota kuno Kolose, tempat yang disebut dalam Perjanjian Baru dan dikenal sebagai salah satu lokasi pelayanan Rasul Paulus. Temuan ini diyakini memperkuat catatan sejarah Alkitab yang menggambarkan kehidupan rohani jemaat mula-mula.
Mengutip The Guardian, Tim arkeolog di wilayah Aegean, di kaki Gunung Honaz, menemukan lebih dari 60 makam batu berusia sekitar 2.200 tahun.
Situs ini diyakini sebagai bagian dari nekropolis Kolose, kota yang disebut dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Kolose. Penemuannya sendiri pertama kali dilaporkan oleh Anadolu Agency pada 6 Oktober 2025.
Menurut arkeolog Baris Yener, kompleks pemakaman ini kemungkinan merupakan salah satu yang terbesar di Anatolia, menampilkan makam-makam berbentuk palung yang dipahat dari batu travertine alami.
Di dalamnya ditemukan berbagai artefak seperti lampu minyak, botol kaca, koin, dan jimat yang memberi gambaran tentang keyakinan masyarakat kuno terhadap kehidupan setelah kematian.
“Setelah membuang lapisan tanah, kami menemukan sekitar 65 makam, dan telah menggali 60 di antaranya,” kata Yener. “Banyak di antara makam ini berisi benda-benda pribadi yang menunjukkan kepercayaan spiritual yang sangat kaya.”

- Sumber Foto: Anadolu Agency
Kolose dalam Alkitab
Kota Kolose dikenal umat Kristen melalui Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose, yang terdapat di Alkitab Perjanjian Baru. Dalam surat itu, Paulus menegaskan keilahian Kristus dan memperingatkan jemaat agar tidak terseret oleh ajaran palsu yang menomorduakan Kristus.
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan; karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” Kolose 1:15–17
Ayat ini menjadi inti dari pesan Paulus, bahwa Kristus adalah pusat dan sumber segala ciptaan, bukan sekadar salah satu “kuasa rohani” sebagaimana diyakini oleh sebagian masyarakat Kolose kala itu, yang masih dipengaruhi praktik mistik dan penyembahan benda-benda pelindung.
Mengungkap Tradisi Spiritual Pra-Kristen di Kolose
Temuan arkeologis memperlihatkan bahwa masyarakat Kolose kuno memiliki praktik keagamaan sinkretik, yang memadukan keyakinan terhadap dewa, jimat dan sihir pelindung.
Artefak berupa cakra batu dan jimat yang ditemukan bersama jenazah, menunjukkan kepercayaan bahwa benda-benda itu dapat membantu arwah dalam perjalanan menuju akhirat.
“Penemuan ini memperlihatkan konteks spiritual di mana Kekristenan awal bertumbuh,” jelas Yener.
“Surat Paulus kepada jemaat Kolose menjadi semakin bermakna jika kita memahami bahwa mereka hidup di tengah budaya yang sangat spiritual, namun juga penuh takhayul.”
Dalam suratnya, Paulus menasihati jemaat agar meninggalkan praktik-praktik lama dan berfokus kepada hidup baru di dalam Kristus.
“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3:1–2
Temuan arkeologi ini menjadi pengingat nyata bahwa pesan Alkitab tidak hanya bersifat rohani, tetapi juga memiliki akar sejarah dan geografis yang kuat. Kolose bukan sekadar nama dalam kitab suci, melainkan kota yang benar-benar pernah berdiri dan menjadi saksi pertumbuhan iman Kristen mula-mula.
Para peneliti percaya, penggalian lanjutan akan mengungkap lebih banyak lagi tentang kehidupan sosial, ekonomi, dan tentunya gambaran spiritual masyarakat Kolose.