Lentera Takjub, Sukabumi – Di tengah proses hukum kasus perusakan rumah singgah retret pelajar Kristen di Kampung Tangkil, Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Yohanes Wedy—pelapor sekaligus pemilik rumah singgah—menyumbangkan dana bantuan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk keluarga para tersangka dan sebuah masjid setempat.
Dana senilai Rp 100 juta yang awalnya diberikan untuk pemulihan villa, dialihkan oleh Wedy kepada pihak yang terlibat dalam insiden tersebut. Dalam kunjungannya ke lokasi, Jumat (25/7/2025), Wedy menyerahkan langsung tahap pertama bantuan sebesar Rp50 juta, didampingi oleh tim kuasa hukum.
“Pak Wedy merasa bahwa keluarga para tersangka dan warga sekitar lebih membutuhkan bantuan ini,” ujar kuasa hukumnya, Subadria Nuka, seperti dikutip dari Sukabumi Update.
Menurut Subadria, bantuan ini adalah bentuk empati dan kepedulian, bukan sebagai bentuk damai hukum, melainkan sebagai tanggapan atas situasi sosial-ekonomi masyarakat sekitar.
Kuasa hukum lainnya, Stein Siahaan, menambahkan bahwa sisa dana akan disalurkan secara bertahap, mempertimbangkan kemungkinan adanya penambahan tersangka.
“Kami ingin tetap adil, jika ada tersangka baru, mereka pun bisa merasakan bantuan yang sama,” jelasnya.
Wedy menyampaikan, keputusannya murni didorong semangat kemanusiaan. Ia memandang bahwa para pelaku bisa jadi terdorong oleh pengaruh luar yang tidak sepenuhnya mereka pahami.
“Saya tetap mendukung proses hukum. Tapi dalam hal bantuan, itu soal hati nurani. Kami merasa mereka juga sedang mengalami kesulitan,” kata Wedy.
Meski proses hukum tetap berjalan, Wedy mengapresiasi langkah Polres Sukabumi yang dinilai telah menangani kasus ini secara serius. Pihaknya juga mendorong agar penyidik terus menelusuri aktor intelektual di balik perusakan rumah singgah tersebut.
“Kami ingin polisi tidak berhenti hanya di pelaku lapangan. Dalang di balik kejadian ini harus terungkap,” tegas Stein.
Hingga saat ini, delapan orang telah ditetapkan sebagai tersangka, dan berkas perkara telah dilimpahkan ke kejaksaan. Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, memastikan penyidikan akan terus dikembangkan jika ditemukan keterlibatan pihak lain.
Baca artikel sebelumnya: Rumah Retret Diserbu: Iman yang Diuji
Pasca insiden, upaya rekonsiliasi dan penguatan toleransi pun digalang. Tokoh-tokoh lintas agama dari wilayah Cicurug dan Cidahu menggelar pertemuan di kawasan wisata Batu Tapak, menyerukan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama.
Perwakilan FKUB, MUI, pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, serta unsur masyarakat sipil hadir dalam forum tersebut. Mereka menegaskan bahwa kehidupan beragama di daerah tersebut selama ini berjalan harmonis.
“Peristiwa ini jadi refleksi untuk memperkuat semangat saling menghormati,” ujar Ismail, S.Ag, Ketua MUI Kecamatan Cidahu.
Forum itu juga mendorong perlunya pendidikan lintas agama sejak dini, penguatan FKUB di tingkat lokal, serta keterlibatan aktif tokoh agama dalam membina umat menuju perdamaian.