Lentera Takjub – Hari itu, Yesus kembali mengajar di tepi danau. Orang-orang berkumpul begitu banyak, sampai-sampai Ia harus naik ke perahu dan duduk di sana, sementara kerumunan terus memenuhi pantai. (1)
Dari perahu itulah, Yesus mulai berbicara. Bukan dengan uraian panjang, tetapi dengan perumpamaan yang sederhana, seperti kisah sehari-hari.
2–3. Ia mengajar mereka dengan banyak perumpamaan, dan berkata: “Dengarlah! Seorang penabur keluar untuk menabur.”
4–8. Benih itu jatuh di berbagai tempat. Ada yang di pinggir jalan, dimakan burung. Ada yang di tanah berbatu, tumbuh cepat tapi layu karena tak berakar. Ada yang jatuh di semak berduri, terhimpit hingga tak berbuah. Ada pula yang jatuh di tanah baik, bertumbuh subur dan menghasilkan buah berlipat ganda.
Yesus menutup dengan kalimat sederhana, “Siapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (9)
10–12. Ketika murid-murid bertanya tentang arti perumpamaan itu, Yesus berkata: “Kepadamu diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang luar semuanya diberitakan dalam perumpamaan… supaya meski melihat, mereka tidak mengerti; meski mendengar, mereka tidak menangkap.”
13–20. Ia lalu menjelaskan, benih itu firman. Hati manusia adalah tanah. Ada yang keras, ada yang dangkal, ada yang penuh gangguan, dan ada yang terbuka. Yang terbuka, seperti tanah baik, akan menghasilkan buah melimpah.
21–23. Yesus melanjutkan, “Orang menyalakan pelita bukan untuk menaruhnya di bawah tempayan, tapi di atas kaki dian supaya cahayanya tampak. Demikian pula, yang tersembunyi akan dinyatakan. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.”
24–25. Ia menambahkan: “Perhatikan apa yang kamu dengar. Ukuran yang kamu pakai akan diukurkan kepadamu. Siapa punya, akan diberi lagi; siapa tidak punya, akan diambil bahkan yang ada padanya.”
26–29. Lalu Ia berkata: “Kerajaan Allah itu seperti orang menabur benih. Malam ia tidur, siang ia bangun, dan benih itu tumbuh tanpa ia sadari. Tanah itu dengan sendirinya menghasilkan: mula-mula tunas, lalu bulir, lalu gandum yang penuh. Saat sudah matang, ia segera menyabit, sebab musim panen telah tiba.”
30–32. Yesus menutup dengan perumpamaan biji sesawi: “Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi, benih terkecil. Tapi bila ditabur, ia tumbuh menjadi pohon besar dengan cabang rimbun, tempat burung bersarang.”
33–34. Markus menambahkan, dengan banyak perumpamaan seperti itu, Yesus memberitakan firman sesuai kemampuan mereka mendengar. Tetapi kepada murid-murid, Ia menjelaskan segala sesuatu secara pribadi.
Tak terasa, sore hari telah tiba. Yesus kemudian berkata, “Mari kita ke seberang.”
Mereka pun menuruti keinginan Yesus, dan kemudian berlayar ke seberang. Namun, di tengah perjalanan, tiba-tiba angin ribut melanda, ombak menghantam perahu hingga hampir karam. (35-37)
Di tengah kepanikan itu, Yesus ternyata didapati ada di buritan, tidur di alas sebuah bantal. Murid-murid kemudian membangunkan-Nya, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (38)
39. Yesus bangun, menghardik angin dan berkata kepada danau, “Diam! Tenanglah!” Seketika itu juga, angin reda dan danau menjadi teduh.
40. Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”
Mereka sangat takut dan berkata kepada satu sama lain: “Siapa sebenarnya Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (41)
Refleksi:
Yesus sering memakai perumpamaan supaya kita tidak hanya mendengar, tapi benar-benar memikirkan dan menghidupinya. Firman itu seperti benih. Kalau hati kita siap menerimanya, benih itu akan tumbuh dan berbuah.
Dan ketika badai hidup datang, kita diingatkan bahwa Yesus tidak akan membiarkan kita tenggelam. Sama seperti Ia menenangkan angin ribut di danau, Ia juga sanggup memberi tenang di hati kita.
Catatan: Seluruh ayat yang digunakan dalam artikel ini diambil dari Markus 4, berdasarkan versi World English Bible (WEB) dan King James Version (KJV) yang merupakan teks domain publik (public domain). Teks telah disusun ulang secara naratif tanpa mengubah makna aslinya.