Lentera Takjub – Di Tapanuli Utara, sebuah kisah sederhana namun penuh cahaya tengah tumbuh dari sebuah ruang kelas. Namanya Apriyanti Br Marpaung, seorang guru Matematika beragama Kristen yang baru saja resmi mengabdi sebagai ASN di Kementerian Agama.
Tahun ini, langkahnya membawanya memasuki lingkungan baru, MTs Negeri Tapanuli Utara, tempat ia memilih menanamkan ilmunya dengan hati yang terbuka.
Hari pertamanya mengajar tidak pernah ia lupakan. Ada tatapan ragu yang mampir dari beberapa siswa. Ada bisik-bisik kecil yang muncul bukan karena ia guru baru, melainkan karena keyakinannya berbeda.
“Pertanyaan itu pernah muncul, ‘Kok guru Kristen ngajar di madrasah?’” kenang Apriyanti seperti dikutip dari laman Kemenag.
Namun Apriyanti tidak menyimpan luka. Sebaliknya, ia menjadikannya pintu masuk untuk memperlihatkan wajah sebenarnya dari moderasi beragama, sebuah sikap yang bertumbuh melalui perjumpaan, bukan sekadar teori.
Belajar dari Setiap Sujud dan Salam
Putri bungsu dari keluarga Nasrani di Rantau Prapat ini mengaku, setiap hari ia pulang dengan hati yang lebih kaya. Ia menyaksikan bagaimana para siswa dan rekan guru menjalankan ibadah dengan ketulusan yang seperti air jernih, tenang, sederhana, namun sungguh-sungguh.
Ia belajar memahami tradisi, kebiasaan, dan ritme kehidupan di madrasah. Bukan untuk menggantikan imannya, tetapi untuk menambah kedalaman rasa hormatnya terhadap perbedaan.
Yang paling menyentuh hatinya adalah penerimaan yang ia terima tanpa syarat.
Mereka menghargai keyakinannya, doa-doanya, dan cara ia menghadirkan kasih melalui profesinya.
“Saya diterima apa adanya,” kata Apriyanti dengan mata yang terasa lebih hangat dari biasanya.
Di madrasah itu, perbedaan tidak menjadi dinding yang membatasi langkah. Ia justru menjadi jembatan tempat semua duduk bersama, saling mendengar, saling memperhatikan, dan saling menguatkan.
Moderasi yang Hadir dalam Tindakan
Apriyanti semakin tersadar bahwa moderasi beragama tidak tumbuh dari modul pelatihan atau seminar semata.
Ia tumbuh dalam sikap-sikap kecil, mulai dari cara kita menyapa, dari kesediaan memahami, dan dari keberanian untuk bekerja bersama meski berbeda keyakinan.
Mengajar di lingkungan Islam membuatnya melihat bahwa keberagaman bukan ancaman. Keberagaman adalah ruang bertumbuh, tempat seseorang belajar bahwa di balik label agama, setiap manusia memiliki kebutuhan yang sama, untuk dihargai dan menghargai.
Ketika Perbedaan Menjadi Tempat Bernaung
Apriyanti kini merasa bangga berjalan setiap pagi ke madrasah. Ia bangga berdiri di depan kelas, mengajar dengan ketulusan, dan diam-diam menunjukkan satu hal penting, bahwa kasih dapat bekerja di mana saja, bahkan di tempat yang mungkin tidak pernah orang bayangkan.
“Pada akhirnya,” katanya, “damai lahir ketika kita berani menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman. Dan saya menemukan kedamaian itu di sini, di sebuah madrasah yang menjadi rumah harmoni di tengah keberagaman.”
Kisahnya menjadi pengingat halus bagi kita semua, bahwa Tuhan sering kali menyalakan cahaya-Nya lewat pertemuan-pertemuan yang sederhana.
Dan kadang, justru di ruang di mana kita merasa ‘berbeda’, kita menemukan bahwa kita sebenarnya sedang dipeluk oleh kasih yang sama.