Lentera Takjub – Dalam hidup, ada masa-masa ketika segalanya terasa berat. Makanan di meja tinggal sedikit, isi dompet menipis, dan pekerjaan belum juga pasti.
Namun, tahukah Anda? justru di saat-saat inilah kasih Tuhan bisa paling nyata terasa—bukan dari apa yang kita terima, tetapi dari apa yang masih kita berani beri.
Berbagi dari Kekurangan: Cermin Iman yang Hidup
Injil Markus mencatat kisah tentang seorang janda miskin yang memberikan dua keping uang tembaga ke peti persembahan. Itu semua yang ia punya. Dan Yesus memuji dia di hadapan murid-murid-Nya:
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.” — Markus 12:43
Yang perlu kita mengerti, bukan besar jumlahnya yang membuatnya mulia, tapi keberanian untuk mempercayai bahwa Tuhan akan selalu mencukupi keperluan kita.
Berbagi Adalah Tindakan Melawan Ketakutan
Ya! Berbagi saat kelimpahan itu mudah. Tapi ketika kita sedang dalam kekurangan, berbagi menjadi tindakan iman yang radikal. Itu seperti berkata, “Aku tidak tahu dari mana lagi aku bisa hidup, tapi aku tahu siapa yang memelihara hidupku.”
“Janganlah kamu kuatir tentang hidupmu, akan apa yang kamu makan atau minum… Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” — Matius 6:25,33
Tuhan, tidak pernah menutup mata pada mereka yang berkorban dalam kasih.
Rahmat Tuhan Menyentuh Lewat Tangan yang Mau Terbuka
Saat kita berbagi, kita sedang menjadi saluran rahmat Tuhan bagi orang lain. Tapi yang sering kita lupakan adalah: Tuhan juga sedang menyalurkan rahmat-Nya kepada kita lewat tindakan itu. Saat kita memberi, kita pun dipulihkan, dilembutkan, bahkan dikuatkan.
“Berilah dan kamu akan diberi… Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu.” — Lukas 6:38
Berbagi bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk menyembuhkan luka di hati kita sendiri. Yakni luka karena merasa sendiri, takut, atau tidak cukup.
Berbagi Membuat Kita Menjadi Gambar Allah yang Hidup
Allah adalah pemberi—Ia memberi Anak-Nya, kasih-Nya, bahkan napas kita setiap pagi. Ketika kita berbagi, bahkan dalam kesulitan, kita sedang mencerminkan hati-Nya. Kita menjadi gambar Allah yang nyata, berjalan di dunia ini. Dan lewat kita, orang lain bisa merasakan bahwa Tuhan masih peduli.
Kesimpulannya, di dunia yang terus menuntut untuk “memiliki lebih,” Tuhan memanggil kita untuk percaya bahwa cukup itu bukan soal jumlah, tapi soal iman. Dalam setiap sedekah kecil, setiap makanan yang dibagi dua, setiap senyuman yang kita beri meski hati sedang perih—di sanalah rahmat Tuhan turun, mengalir, dan menguatkan.
“Karena itu marilah kita saling membantu, saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” — Ibrani 10:24